Sukses dalam Usaha Patungan – Seri I

usaha patungan

Anda dan beberapa kawan sedang mencari duit tambahan akibat terus naiknya biaya kebutuhan hidup, namun memiliki keterbatasan waktu dan sumber daya (red: duit). Kemudian salah satu dari kalian menyeletuk, “gimana kalau kita bikin usaha patungan?”. Sekilas tampak menarik karena bisa memanfaatkan waktu dan duit bersama sehingga menjadi ringan. Eits, belum tentu…. Banyak usaha bersama yang berakhir dengan putusnya hubungan pertemanan. Bagaimana menjalankan usaha patungan secara sehat? Berikut kami beri beberapa kisi-kisinya.

Setidaknya ada 10 poin penting yang bisa kita perhatikan, sejak kita mulai melakukan usaha patungan dengan teman(teman) kita.

Melalui rangkaian artikel berseri ini, kita akan bahas setidaknya tiga poin dalam setiap artikel, sehingga kita lebih mudah memahami. Kita akan mulai dari tiga poin pertama, Jangan memaksakan kehendak, Jangan menyerah pada patner, dan Win-win solution.

 

1. Jangan memaksakan kehendak

Ada perbedaan antara melakukan usaha sendirian dengan melakukan usaha bersama teman. Bila kita memulai usaha sendiri, maka semua kegiatan usaha, semua keputusan sehubungan dengan usaha kita, akan kita lakukan dan ambil sendiri. Kondisi usaha kita sepenuhnya ada ditangan kita.

Problem akan timbul ketika kita mulai usaha bersama teman kita. Ada pepatah mengatakan, “uang tidak ada temannya”, artinya, sering kali usaha gagal karena perselisihan pendapat antar pemilik perusahaan.

Maka, apa yang bisa kita lakukan? Sejak usaha didirikan, yang selalu kita ingat adalah, usaha ini adalah usaha bersama, maka, hidup matinya usaha bukan bergantung pada satu orang pemilik semata, tapi pada berapa orang yang menjadi pemilik usaha tersebut.

Dalam membuat keputusan, upayakan untuk tidak memaksakan kehendak. Dengarkan masukan dari rekan bisnis kita, bisa jadi masukan tersebut yang lebih baik dilakukan pada kondisi yang sedang terjadi.

 

2. Jangan menyerah pada patner

Istilah ini mungkin terdengar sedikit bertentangan dengan poin pertama di atas, tapi, sebenarnya tidak. Yang dimaksud dengan jangan menyerah pada patner adalah, selalu menyerah pada keinginan rekan bisnis kita, seolah-olah kita menjadi tidak memiliki hak suara, kita menjadi selalu pesimis dan pasrah pada apapun keputusan dari rekan kita.

Memang, hak suara dalam suatu usaha biasanya ditentukan seberapa besar modal (uang) yang kita setorkan diawal. Kebiasaan pasrah ini, bisa terjadi kalau kita menjadi pemegang saham minoritas.

Oleh karena itu, biasakan sejak berdiri, bahkan sebelumnya, sejak berdiskusi untuk menjalankan suatu usaha bersama, posisi dan modal yang disetor di awal hendaknya jelas dan transparan diantara pemilik usaha. Mungkin, bisa kita anggap seperti sebuah keluarga, jika kita usaha bertiga misalnya, dengan pembagian modal usaha, 40% dari A, 40% dari B, dan 20% dari C, maka anggaplah pemilik saham A&B sebagai ayah dan ibu, dan C sebagai anak. Dalam keluarga, seringkali anakpun dilibatkan dalam mengambil keputusan, bukan? Begitu pula, meski C adalah pemilik saham minoritas, tidak ada salahnya mendengarkan masukan darinya.

 

3. Win-win solution

Dijaman yang serba kompetitif ini, bisa jadi istilah ini terdengar sudah ketinggalan jaman. Kita mungkin berkata, “jaman sekarang gak adalagi yang namanya win-win solution, yang ada siapa yang kuat dia yang menang.”

Hingga satu titik mungkin ada benarnya, terutama jika kita berhadapan dengan kompetitor kita yang bisa jadi melakukan persaingan yang tidak sehat. Tapi, dalam suatu usaha patungan, atau usaha bersama, kekompakan antar pemilik, merupakan hal yang mutlak diperlukan.

Dengan menggunakan dua poin sebelumnya, kita bisa membuat sebuah keputusan yang bersifat win-win, atau keputusan di mana semua pemilik merasakan kemenangan bersama, semua pemilik merasakan “inilah keputusan yang terbaik saat ini.” Dan, jika keputusan itu sudah diambil, segera lakukan jangan tunda, agar tidak menjadi dualisme keputusan, atau keputusan yang bersifat mengambang.

 

Kunci agar usaha bersama bisa berhasil adalah keseimbangan dan kekompakan, dan menjaga dua hal ini bisa berjalan baik, lebih bersifat seni ketimbang ilmu pasti. Dalam seri berikutnya, kita akan bahas tiga poin berikutnya, apa itu? Silahkan lihat di seri II dari artikel usaha patungan.

Bagi mereka yang sudah berhasil berusaha bersama teman, bisa sharing ke sini…