Seri Investasi : Neraca Perdagangan

Neraca

Setelah kita bahas si kembar inflasi dan suku bunga, sekarang kita akan bahas tentang neraca perdagangan. Apa neraca perdagangan itu? Dan apa pengaruhnya terhadap Rupiah?

Karena tiap-tiap negara berdagang terhadap satu sama lain, maka antar negara sebenarnya saling membutuhkan, artinya suatu negara tidak mungkin tidak impor barang, begitu pula sebaliknya, suatu negara akan kesulitan ekonomi bila tidak melakukan ekspor.

Maka, neraca perdagangan adalah perbedaan antara nilai ekspor dan impor dalam suatu jangka waktu tertentu. Jadi ini adalah hubungan antara ekspor dan impor suatu negara, jika neraca ini positif sering disebut surplus perdagangan dengan syarat nilai ekspor lebih besar dari nilai impor dalam periode tersebut. Maka, kebalikannya, jika lebih besar impor dari ekspor, maka dikenal dengan defisit perdagangan, atau sering juga dikenal dengan “jurang perdagangan” (trade gap).

Supaya harga barang ekspor kompetitif, banyak bank sentral yang membiarkan nilai mata uangnya tetap rendah, dan ini yang sering dilakukan oleh Jepang.

Neraca perdagangan merupakan bagian dari arus kas suatu negara. Nah, kaitannya dengan Rupiah, neraca perdagangan yang surplus bisa menguatkan nilai Rupiah, karena neraca perdagangan surplus bisa dikatakan meningkatkan keuangan Indonesia alias Indonesia makin kaya.

Sekarang kondisi Rupiah sudah melemah cukup lama dan cukup dalam, maka ini hendaknya dimanfaatkan oleh para pengusaha sebagai ajang membuat barang dengan harga yang kompetitif tapi tetap berkualitas, dan diekspor. Dengan asumsi, semakin meningkat ekspor, maka semakin meningkatkan surplus perdagangan yang pada akhirnya akan menguatkan nilai Rupiah kembali.

Neraca perdagangan berkaitan erat dengan GDP (Gross Domestic Product/Produk Domestik Bruto (PDB), untuk penjelasan tentang GDP, akan dibahas pada seri berikutnya). Surplus perdagangan tahunan secara langsung dan segera menambah pertumbuhan.

Yang menarik, neraca perdagangan biasanya berbanding terbalik dengan siklus bisnis. Dalam pertumbuhan yang disebabkan oleh jumlah ekspor (terutama bahan baku), neraca perdagangan akan meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi.  Dengan meningkatnya ekonomi, tentu akan meningkatkan permintaan dalam negeri (untuk barang jadi), sehingga  neraca perdagangan akan memburuk sejalan dengan siklus bisnis.

Neraca perdagangan moneter berbeda dengan neraca perdagangan fisik. Negara-negara maju umumnya meng-impor banyak bahan baku dari negara-negara berkembang. Biasanya, bahan baku yang diimpor ini diubah jadi barang jadi, dan akan di ekspor setelah mendapat nilai tambah. Kebanyakan negara maju punya defisit yang sangat besar pada neraca perdagangan fisiknya, sehingga mereka punya jejak ekologi (ekological footprint, akan kita bahas pada artikel berikutnya). Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) sering menarik perhatian akan hal ini dan mengkampanyekan pembayaran kembali hutang ekologi ini.

Dari sini kita bisa lihat kalau keseimbangan diperlukan, bukan hanya seimbang dalam neraca saja tapi juga seimbang dengan alam.

Bila ada yang berpengalaman dalam mengelola neraca perdagangan ini, silahkan share ke sini…