Resesi Penyebab Depresi

resesi

“Sedia payung sebelum hujan.” Sering menjadi pengingat bila sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Di artikel ini kita akan bahas tentang resesi – depresi, tujuannya bukan untuk memberikan peringatan karena peringatan biasanya dari pemerintah, juga bukan nakut-nakutin, karena bukan cerita horor :) , tapi lebih kepada pengingat, seperti seorang ibu ke anaknya atau seperti seorang sahabat ke kita.

Istilah resesi mungkin sering kita dengar di media, walau depresi jarang kita dengar istilah tersebut, tapi depresi berkaitan erat dengan resesi. Kita ingin melihat di mana kaitannya.

Lalu apa resesi itu? Apakah tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan ketika resesi terjadi?

Kalau kita lirik di wikipedia, resesi adalah pelambatan secara menyeluruh dalam aktifitas ekonomi, Indikator ekonomi makro seperti GDP/PDB (Produk Domestik Bruto), pengeluaran untuk investasi, pendapatan rumah tangga, keuntungan bisnis, dan inflasi, semuanya jatuh, sementara jumlah yang bangkrut dan tingkat pengangguran naik.

Resesi secara umum terlihat ketika ada penurunan yang menyebar dalam pengeluaran. Hal ini biasanya dipicu oleh berbagai peristiwa seperti krisis keuangan, guncangan terjadi pada perdagangan di luar negeri, dan meledaknya gelembung ekonomi. Pemerintah biasanya merespon resesi dengan mengadopsi kebijakan ekonomi makro yang ekspansif, seperti meningkatkan pasokan uang, meningkatkan pengeluaran pemerintah, dan penurunan pajak.

Resesi wajar terjadi tapi bila sudah terlalu lama tanpa jalan keluar, maka masuk ke depresi. Mudahnya, depresi adalah resesi yang berkepanjangan, dan biasanya, kedua ini berawal dari krisis keuangan atau ekonomi seperti yang dijelaskan di atas.

Kita tidak ingin masuk ke resesi apalagi depresi, bahkan pemerintah dan kalangan ekonom biasanya sudah kasih peringatan ketika krisis mulai terjadi. Kalau begitu kita sebagai masyarakat umum apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Tentu saja ada.

Seperti semboyan di awal, ketika mau hujan kita biasanya sudah melihat ada tanda-tanda akan turun hujan, mulai dari angin, awan, lalu terakhir ada rintik-rintik air. Nah, bagi kita yang sudah lihat tanda-tanda itu, kita akan siap-siap payung, jas hujan, dan bila perlu baju ganti.

Begitu pula ketika kita melihat tanda-tanda krisis terjadi, kita sudah harus siap-siap, apa saja yang perlu kita siapkan?

Pertama, mental. Jangan panik kalau kita lihat tanda-tanda krisis atau berita-berita tentang krisis, entah di dalam negeri atau di luar terjadi. Karena kalau kita panik, kecenderungannya akan menyebar, dan ini bukan membantu, malah akan memicu resesi.

Kedua, lakukan aktifitas ekonomi secara wajar dan normal. Misal, kalau memang kita harus berbelanja hari ini, jangan tunda hingga esok. Kalau, aktifitas ekonomi mulai melambat dan kita jadi ikut-ikutan tunda belanja, bukan hanya kita yang rugi, tapi juga bisa memperparah krisis. Salah satu keuntungan kondisi di negeri ini, adalah ekonomi rakyat yang sering menopang untuk melewati krisis. Rakyat yang terus belanja secara normal membuat krisis sering kurang terasa, tapi jangan lupa investasi tetap harus dilakukan, seperti yang kita ketahui, kecendrungan yang terjadi ketika krisis apalagi sudah resesi, banyak yang takut untuk investasi, padahal seperti belanja tadi, kalau investasi tetap dilakukan, maka resesi bisa dicegah.

Memang, kita maunya semua berjalan normal, tapi siklus tetap ada, seperti siklus air yang tidak pernah berhenti agar bumi tidak kekurangan atau kepenuhan air, maka siklus ekonomi juga kadang perlu terjadi.

Sudah siap hadapi resesi? Bagi mereka yang sudah siap atau sudah pernah hadapi resesi, silahkan share ke sini…