Outlook Ekonomi Mingguan : 23-27 Desember 2013

International

Keputusan rapat FOMC masih menjadi penggerak pasar pekan ini. Bank sentral AS akhirnya memutuskan dimulainya pemangkasan stimulus (tapering) pada rapat FOMC pekan lalu. Pemangkasan stimulus sebesar $10 milyar ini akan dimulai pada Januari 2014.

Tapering ini menguatkan nilai dollar AS pekan lalu. Selain tapering, rilisan proyeksi ekonomi AS Federal Reserve yang menyebutkan bahwa ekonomi AS akan lebih sehat di 2014 juga memberikan sentimen penggerak pasar. Proyeksi ini mendorong penguatan indeks saham AS, Dow Jones dan S&P500 mengalami penutupan harian dengan rekor tertinggi pekan lalu, yang berimbas pada penguatan indeks saham Asia dan Eropa. Pekan ini likuiditas pasar keuangan kemungkinan akan menurun drastis karena banyaknya sentral pasar keuangan global yang tutup merayakan Natal. Likuiditas yang menurun ini bisa berimbas pada pergerakan harga yang stagnan atau bisa juga menimbulkan pergerakan harga yang volatil.

 

S&P menurunkan peringkat hutang Uni Eropa satu tingkat. S&P memberikan peringkat AA+ dari sebelumnya AAA. Penurunan peringkat hutang ini menambah tekanan turun bagi nilai tukar euro. S&P menilai bahwa negosiasi anggaran Uni Eropa yang menghangat telah menaikkan resiko dukungan Uni Eropa terhadap beberapa negara anggota. Di sisi lain, S&P masih mempertahankan peringkat hutang Inggris di level tertinggi, AAA.

 

Yen Jepang mempertahankan pelemahannya terhadap dollar AS. Nilai tukar yen mendekati level 105 yen per dollar pekan lalu. Selain karena keputusan tapering bank sentral AS, pelemahan yen juga didukung oleh keputusan bank sentral Jepang (BOJ) yang tetap berkomitmen untuk mempertahankan pelonggaran stimulusnya sebesar 60-70 triliun yen per tahun. Selain itu BOJ juga masih mempertahankan target inflasi 2% di tahun 2015. Data ekonomi penting Jepang pekan ini baru akan dirilis pada hari Jumat.

 

Aussie sulit membangun rally di tengah suasana libur Natal. Kurs valuta Aussie (AUD/USD) nampak masih akan tertekan sepanjang pekan ini setelah pada medio Desember lalu mencatatkan penurunan mingguan terburuknya berturut-turut sejak tahun 1985 silam. Terpuruknya Aussie kian diperparah oleh pernyataan pimpinan bank sentral Australia (RBA), Glenn Stevens, yang mengatakan bahwa pihaknya lebih nyaman bila AUD/USD di perdagangkan setidaknya pada kisaran 85 sen AS. Sontak pernyataan Stevens tersebut memicu aksi lepas Aussie sampai mata uang negeri kanguru itu terjungkal hingga $0.8820 pada 18 Desember lalu. Aussie kian tertekan seiring dollar AS (USD) rally setelah kebijakan tapering dari Federal Reserve Amerika di umumkan pekan lalu. Dan pekan ini AUD/USD diperkirakan sulit untuk membangun rally lantaran minimnya petunjuk pasar di tengah suasana liburan Natal serta tidak ada data ekonomi yang akan di rilis.

 

Emas kian terbebani fundamental AS yang apik. Pasca pengumuman tapering dari Federal Reserve AS pekan lalu, penguatan harga emas dunia kembali akan terbatas dan diprediksi akan tetap bertahan di jalur penurunan tahunan terbesar dalam 32 tahun terakhir. Sepanjang pekan lalu saja emas telah merosot hingga 2,5%, dan mencatatkan level terendah-nya dalam enam bulan terakhir. Minggu lalu (Rabu, 18/12), the Fed akhirnya mengumumkan untuk mulai memangkas secara bertahap program pembelian obligasinya (stimulus tapering) menjadi $ 75 miliar/bulan efektif mulai bulan Januari 2014. Emas akan semakin sulit untuk menguat akibat terbebani oleh dollar AS yang cenderung kokoh saat ini setelah GDP AS tumbuh pada laju tercepat hampir dalam 2-
tahun terakhir. GDP AS final tercatat naik 4,1% pada kuartal III, lebih tinggi dari estimasi
sebelumnya di angka 3,6%. Dan data pertumbuhan ekonomi tersebut diperkirakan bisa mendukung alasan bagi the Fed untuk kembali mengurangi stimulus moneter pada pertemuan berikutnya. Sementara ekspetasi terhadap menyempitnya defisit pemerintah AS juga menjadi kontribusi untuk menekan harga emas.

 

Komoditas

Emas – XAU/USD, penguatan terbatas. Mengacu pada indikator moving average (MA-50, MA-100) dan MACD daily yang terkondisi bearish, rally emas kemungkinan besar akan terbatas. Di sisi lain, emas juga akan tertekan oleh faktor penguatan dollar AS pasca pengumuman tapering-the Fed serta fundamental ekonomi AS yang kian membaik. Emas kemungkinan akan terkikis secara bertahap ke support $1187 kemudian $1180 hingga $1160. Sementara dengan mengandalkan indikator Stochastic yang mulai up trend, emas berpotensi menguat terbatas ke resisten $1212 kemudian $1228 atau $1242.80

 

Minyak kembali di dalam channel bullish. Keberhasilan minyak WTI menembus resisten $98.70 dan juga MA 200 ($98.90) membuat minyak kembali diperdagangkan di dalam channel bullish. Posisi long kini lebih sesuai selama minyak berada di atas support $96.20 dengan potensi kenaikan $100.90. Sementara bila minyak stabil di bawah support $96.20 maka ada potensi pergerakan menuju $93.05.

 

Mata Uang

EUR/USD masih dibayangi pola double top. EUR/USD masih kesulitan mencatatkan level
penutupan harian di atas 1.3830 dan ini menegaskan terbentuknya pola double-top yang bisa menyediakan tekanan penurunan. Posisi short masih sesuai selama EUR/USD berada di bawah resisten 1.3830 dengan potensi penurunan hingga 1.3500. Sementara bila EUR/USD berhasil mencatatkan level penutupan harian di atas 1.3830 maka euro berpotensi menuju 1.4070.

 

GBP/USD kembali membentuk inverted hammer. Terbentuknya 2 candle stick “inverted
hammer” pada grafik mingguan dapat sinyalkan berlanjutnya tekanan penurunan sterling. Posisi short masih sesuai selama GBP/USD berada di bawah resistance 1.6485 dengan potensi penurunan hingga 1.6215. Sementara bila harga stabil di atas resisten 1.6465 maka sterling berpotensi menuju 1.6615.

 

AUD/USD masih bearish. Sentimen masih bearish seiring aussie masih diperdagangkan di dalam channel bearish, dan di bawah Moving Average (MA) 50-100-200. Kenaikan masih bersifat koreksi dan mungkin terbatas hingga batas atas channel bearish (0.9055). Posisi short masih sesuai selama berada di bawah resistance 0.9055 dengan potensi penurunan hingga 0.8500. Sementara bila harga stabil di atas resisten 0.9055 maka aussie berpotensi menuju 0.9275.

 

USD/JPY masih dalam tren lemah. Selama indikator moving average harian (MA-50 & MA-100) masih dalam tren bullish, USDJPY diprediksi akan terus menapaki jalur pelemahannya pekan ini. Namun demikian yen kini juga rentan menguat kembali (turun) ke level 103.40 lantaran Stochastic telah terkonfirmasi down trend. Guna merespon support berikutnya, USDJPY kemungkinan akan melanjutkan penguatan ke level 102.50 atau bahkan 102.10. Sedangkan target pelemahan-nya, yen masih membidik resisten 104.35 untuk berlanjut ke 104.60 hingga 105.00.

 

USD/CHF tertopang indikator down trend. Setelah pekan lalu tergerus hingga $0.90, USDCHF nampak pulih menguat seiring indikator Stochastic harian turut bermanuver down trend. Selain itu, terbatasnya pelemahan Swiss frank juga akibat tertekan oleh moving average (MA-50, MA-100) yang terkondisi bearish, serta sejumlah histogram MACD yang masih di zona negatif. Penurunan Swiss frank berpeluang besar ke level 0.8925 dan 0.8870 atau bahkan kembali ke 0.8830. Sedangakan kenaikkan (pelemahan) berpotensi terbatas ke level 0.9040 dan 0.9070 serta 0.9115.

 

Fachmi Jaidi
Trader, Practitioners, Educator and Investment Advisor
Twitter: @fachmijaidi
Monex TCT
The City Tower Building, 29th Floor
Jl. M.H. Thamrin No. 81

Untuk mencoba virtual account, login ke http://www.ngaturduit.com dan akses menu Investasi > FX & Commodity