Orang Pintar Belum Tentu Jago Berinvestasi

Coba pikirkan siapa saja orang-orang yang dianggap pintar di antara teman atau rekan Anda? Ternyata mereka yang kita anggap pintar biasanya jago dalam ilmu yang bisa diukur hasilnya atau memiliki banyak rumus. Namun jika dihadapkan dengan kondisi yang tidak tentu yang membutuhkan pemikiran yang lebih “kreatif”, mereka akan mengalami kesulitan. Atau bisa dibilang mereka pintar dalam kerangka kondisi tertentu.

Tidak sedikit ahli ekonomi dan analis pasar modal – yang jika Anda berdiskusi dengan mereka, pasti akan terpikir bahwa mereka sangat pintar – salah memprediksi pergerakan ekonomi. Mengapa demikian? Karena orang-orang terdidik tersebut menggunakan rumusan matematika canggih dengan berbagai model yang menunjukkan kesimpulan tertentu. Namun seperti halnya pada sebagian besar kehidupan, di dalam ilmu keuangan ada banyak hal yang tidak bisa dijawab dengan rumus matematika, bahkan masih sulit diukur secara pasti. Beberapa hal yang kita semua tahu, antara lain seperti psikologi pasar, perubahan momentum, merupakan hal-hal yang masih belum bisa diukur secara pasti.

 

Bagi orang pintar, hal-hal yang sulit diukur sulit untuk diterima. Ini karena mereka telah terdidik dengan logika bahwa jika terjadi A, maka B. Bayangkan saja pada 2014 ada satu kubu yang bilang IHSG akan menuju ke 5,500 sedangkan kubu lain menyatakan akan ke 4,500. Divergensi dari hasil analisa orang-orang pintar tersebut cukup besar. Betul bahwa sekarang mulai dikembangkan berbagai pendekatan untuk mengukur perilaku manusia. Namun kata kuncinya adalah “pendekatan”, yang berarti masih belum pasti.

 

Saya orang eksakta, lulusan Fakultas Ilmu Komputer. Sebagai seorang yang berpendidikan cukup, saya tentu mendukung segala upaya memetakan dan mengukur berbagai variabel untuk meningkatkan kemampuan kita dalam menganalisa ekonomi. Namun dalam berinvestasi, kita harus selalu mengambil sikap optimis-realistis, yaitu optimis bahwa kita sudah melakukan hal terbaik untuk memutuskan strategi investasi yang menurut kita adalah yang paling tepat, namun tetap realistis bahwa selalu ada kemungkinan bahwa kita:

  • Salah menentukan strategi investasi
  • Salah memprediksi arah ekonomi atau pasar
  • Salah memperkirakan nilai tukar Rupiah
  • Salah memperkirakan arah kebijakan ekonomi dalam negeri maupun luar negeri

 

Kita harus selalu membuka pikiran dan menerima kenyataan bahwa kita bisa saja salah. Karena dengan demikian, maka akan lebih cepat bagi kita untuk menyesuaikan dan meracik strategi baru yang lebih baik. Orang yang pintar dan terdidik kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa mereka salah.