Mau Investasi? Mulai dari Mana? – Bagian I

investasi

Pernah dapat penawaran investasi? Kami yakin pasti pernah ya. Ada yang menjanjikan return hingga 60-70%, entah sebulan atau setahun.  Banyak yang tergiur, banyak juga yang antipati dengan produk-produk investasi. Pemerintah bahkan sekarang membentuk organisasi khusus untuk mengawasi dan mengedukasi produk-produk keuangan secara umum dan investasi secara khusus. Badan ini bernama OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Memang investasi baik untuk dilakukan dan perlu, tapi ingat, investasi seperti sebuah pisau, kalau di gunakan dengan benar bisa menghasilkan hidangan-hidangan yang super mewah dan super lezat, tapi jika digunakan dengan cara yang salah, bisa membunuh orang secara sadis.

Begitupula dengan investasi, jika digunakan dengan benar, bisa melipatgandakan kekayaan kita, tapi bila digunakan secara salah, maka bisa jadi alat penipuan, dan sudah banyak korban, dari masyarakat biasa hingga figur publik. Ada begitu banyak buku diterbitkan tentang investasi, bahkan mata kuliah tentang investasi pun khusus dibuat agar semakin banyak yang melek investasi.

Melalui artikel ini, kami tidak akan mengupas secara detil tentang  tiap-tiap produk investasi, dan kami  juga tidak akan menyarankan satu produk investasi tertentu atau menyatakan satu produk lebih baik dari produk yang lain. Kembali seperti  sebuah pisau yang memiliki banyak jenis dengan fungsi yang berbeda-beda, begitupula produk investasi, ada berbagai jenis dengan fungsi masing-masing.

Mari kita bahas secara umum produk-produk  investasi tersebut.

1. Perlu punya tabungan dulu
Sebelum berbicara tentang produk investasi, ada baiknya kita bertanya pada diri kita, sudahkah kita memiliki tabungan atau deposito? Walaupun dua produk ini, tabungan dan deposito, sebenarnya berbeda, tapi khusus di artikel ini kami akan menganggap sama.

Mengapa kita perlu bertanya tentang tabungan sebelum berinvestasi? Masih ingat dengan porsi pembagian uang kita pada anggaran yang pernah kita bahas di artikel terdahulu?

Di sana, kita bagi kira-kira menjadi, 50% biaya hidup, 20% investasi, 10% sumbangan, 20% lifestyle. Dari pembagian ini, kita bisa lihat kalau investasi kita porsikan sekitar 20% dari gaji kita, mungkin ada yang sampai 30% lebih. Nah, dari yang 20% ini, kita bagi lagi, 50% nya masuk ke deposito, sebagai dana “antisipasi”, maksudnya, digunakan untuk dana cadangan. Dana ini bukan sekedar dana emergency seperti yang sering kita bahas, tapi dana yang didepositokan, dalam kaitannya dengan investasi dapat kita gunakan jika ketika kita berinvestasi mengalami kegagalan atau kerugian.

Baru yang 50% sisanya kita masukan ke produk-produk investasi yang akan kita bahas.

 

2. Emas, properti, reksadana
Kalau kita sudah punya deposito, maka langkah selanjutnya, kita bagi lagi dana yang 50% sisa dari dana yang didepositokan ke produk investasi yang bersifat “pasif”, artinya kita cukup beli produk ini, maka kita sudah berinvestasi, kita tinggal dapatkan hasilnya dikemudian hari ketika harga meningkat.

Emas, properti dan reksadana bisa dikategorikan sebagai produk investasi “pasif”, artinya imbal hasilnya baru akan terasa di atas 1-2 tahun dan resiko rendah(tingkat fluktuasi harga rendah). Kita cukup beli emas 50gr misalnya, maka dalam 2-3 tahun kemudian kita sudah bisa menikmati hasilnya. Karena emas memiliki kecendrungan untuk naik harganya setiap tahun. Begitu pula dengan properti, kita beli rumah saat ini, maka dalam 2-3 tahun kedepan harga rumah kita otomatis meningkat.

Reksadana, mirip dengan menabung, hanya saja, kalau reksadana, kita percayakan uang kita pada manajer investasi yang berpengalaman, untuk menggandakan uang kita, dengan cara dana kita dimasukan dalam pasar saham. Dibandingkan dengan bertransaksi sendiri di pasar saham, uang yang kita masukan pada reksadana akan lebih aman, karena bukan hanya yang mengelola lebih profesional, tapi juga karena dana kita dikelola secara kolektif dan sesuai dengan keinginan kita, dana tersebut dapat dialokasikan ke berbagai produk investasi lain.

 

Produk investasi bukan sekedar sebagai penambah kekayaan kita, tapi juga bisa berfungsi untuk melindungi nilai aset kita yang tiap tahun akan tergerus oleh inflasi. Dan, jumlah masyarakat yang berinvestasi bisa menjadi acuan bagi suatu negara, apakah negara tersebut secara ekonomi sudah dikategorikan maju atau tidak. Berikutnya kita akan membahas investasi “moderat”

Bagi rekan-rekan yang ingin sharing pengalaman berinvestasi “pasif” silahkan share ke sini…