Mau Investasi? Mulai dari mana? – Bagian III

investasi

Dari dua bagian sebelumnya, kita sudah belajar banyak tentang produk-produk investasi, dari mulai yang “pasif”, seperti emas, properti, dan reksadana; yang moderat, obligasi dan saham. Masing-masing dengan keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Dan, adalah baik bagi kita, untuk selalu mulai dari yang “pasif” meski kita sudah mengetahui profil resiko kita, mengapa? Karena, seperti menaiki anak tangga, kita akan memulai dari yang paling bawah, agar kita punbya dasar yang kuat. Begitu pula dalam berinvestasi, meski profil resiko kita mungkin adalah termasuk yang “agresif”, tetap penting bagi kita untuk memulai investasi dari yang “pasif”, sehingga, kita tetap bisa memiliki dana cadangan ketika salah satu investasi kita mengalami kegagalan.

Jadi prinsip “hedging” (lindung nilai) dan “put your eggs in one basket” tetap kita lakukan, supaya kita berinvestasi bukan sekedar menambah kekayaan saja, tapi juga menjaga aset agar tidak mudah tergerus inflasi.

Sekarang, kita akan masuk ke produk investasi terakhir, yang “aktif”, yaitu produk “derivatif” dan “berjangka.” Apa itu produk derivatif? Kata derivatif berarti turunan, ini memaksudkan semua produk investasi yang diturunkan dari produk utamanya. Misal, reksadana bisa dikatakan produk derivatif dari saham. Sedangkan kata berjangka, sebenarnya memaksudkan produk investasi yang memiliki jangka waktu, misal deposito berjangka, artinya deposito yang memiliki jangka waktu yang berbeda-beda jatuh temponya, ada yang 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Tapi, dalam artikel kita kali ini, yang dimaksud produk derivatif dan produk berjangka adalah produk investasi yang bersifat kontrak derivatif dan kontrak berjangka.

Di Indonesia, kita tentu mengenal BEI (Bursa Efek Indonesia) yang merupakan, tempat dilakukannya transaksi efek dari perusahaan-perusahaan di seluruh Indonesia, bisa dikatakan sebagai “pasar” efek Indonesia. Transaksi efek ini diregulasi oleh BAPPEPAM (Badan Pengawas Perusahaan Efek & Pasar Modal) dan sekarang diawasi juga oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Selain BEI dan BAPPEPAM, Indonesia juga memiliki bursa-bursa lain yang khusus memperdagangkan produk-produk derivatif dan berjangka. Untuk produk derivatif dikenal dengan IDX (Indonesian Derivatif Exchange) dan untuk produk berjangka dikenal dengan BBJ (Bursa Berjangka Jakarta). Keduanya saat ini masih diregulasi oleh BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi) serta diawasi juga oleh OJK.

Apa saja yang termasuk dalam produk-produk derivatif? Selain reksadana yang tergolong investasi “pasif”, ada juga produk-produk seperti CFD, Option, Futures, dll, yang tergolong “aktif.” Dan produk-produk berjangka seperti, Forward Comodity, Foreign Exchange, dll, yang juga tergolong “aktif.”

Kenapa produk-produk derivatif dan berjangka tergolong “aktif”? Ini karena imbal hasil yang diberikan bisa jauh lebih besar dari pada bunga deposito tahun berjalan,  dan hasilnya juga dirasakan kurang dari 1 tahun, bahkan bisa hitungan harian, mingguan atau bulanan, tapi, tentu dengan resiko yang tidak kalah besar juga.

Kita ambil contoh, kontrak foreign exchange, yang merupakan transaksi mata uang asing yang bisa dilakukan dalam jangka waktu satu hari, karena perubahan mata uang asing, seperti dollar, euro, yen, dll, dapat terjadi dalam satu hari, sehingga selisih perbedaan antar mata uang asing ini, bisa kita jadikan keuntungan dalam satu hari.

“High risk – high return” adalah istilah yang sering kita dengar dalam dunia investasi. Ini menunjukan dalam setiap keuntungan yang besar pasti ada resiko yang besar pula. Tinggal kita belajar cara mengelola resiko yang dimulai dari mengelola resiko pribadi.

Untuk menuju puncak, selalu mulailah dari bawah, atau istilahnya, bottom-up, supaya kita punya pijakan yang kuat.

Punya pengalaman transaksi derivatif? Silahkan share ke kami…

Tags: