Mengungkap Gelembung Ekonomi

gelembung

Dalam media kita mungkin sering mendengar istilah gelembung ekonomi. Apakah sebenarnya gelembung ekonomi itu?

Sebelum kita masuk ke arti gelembung ekonomi, kita harus mengerti dulu, apabila suatu produk atau aset memiliki nilai intrinsik atau nilai fundamental. Nilai intrinsik adalah nilai asli yang melekat pada fisik suatu produk atau aset, misal nilai kertas pada uang kertas merupakan nilai intrinsik uang kertas. Nilai kertas tersebut berbeda dengan angka yang tertera pada uang kertas, jadi kalau uang Rp 100.000,- memiliki nilai intrinsik yang berbeda dari Rp 100.000,-, nilainya bisa lebih rendah atau lebih tinggi.

Sekarang kita kembali ke topik, mengenai gelembung ekonomi. Kalau kita lihat di wikipedia, gelembung ekonomi atau juga disebut gelembung harga atau gelembung keuangan, merupakan perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai intrinsiknya, atau bisa dikatakan memperdagangkan produk atau aset dengan harga yang lebih tinggi daripada nilai fundamentalnya.

Pengamatan nilai intrinsik sering sulit dilakukan dalam keadaan nyata di pasar, sehingga gelembung sering hanya dapat dikenali dengan pasti secara retrospektif, ketika terjadi penurunan harga secara tiba-tiba.

Penggelembungan harga paling rentan terjadi di pasar saham dan pasar keuangan, itulah sebabnya ketika banyak dana asing mengalir masuk ke bursa, banyak ekonom yang mengkhawatirkan akan terjadi gelembung ekonomi.

Kenapa gelembung ekonomi atau gelembung harga ini bisa berbahaya? Karena, kalau gelembung ekonomi pecah, cendrung berakibat krisis ekonomi yang berujung pada resesi. Sedangkan gelembung harga dalam beberapa kasus tidak terlalu berbahaya hingga menimbulkan krisis, tapi tetap merugikan pihak yang terkena dampak.

Kita masih ingat, beberapa waktu lalu ketika harga daging melonjak hingga ratusan ribu, berdampak pada harga ayam, dimana harga ayam juga meningkat, tapi ternyata akhirnya produsen ayam over supply, terutama bibitnya, hingga mereka mengalami kerugian. Ini bisa dikatakan sebagai gelembung harga.

Sebagai konsumen, kita memang seringkali tidak berdaya dengan kondisi seperti ini, paling-paling hanya bisa beralih ke produk lain sebagai alternatif.

Tapi, untuk keuangan kita bisa antisipasi dengan sistem Pamflet, Perencanaan, tentukan apa yang mau kita beli saat ini, apa yang kita butuhkan. Lalu, Anggaran, setelah buat rencana, segera buat anggaran, usahakan anggaran bukan hanya untuk kebutuhan kita saja, tapi juga untuk keinginan kita, agar kita tahu seberapa banyak keinginan kita bulan ini, dan apakah keuangan kita cukup untuk mendukungnya. Berikutnya, Manajemen, ini diperlukan kalau mau tujuan kita cepat tercapai, manajemen di sini bukan sekedar manajemen keuangan saja, tapi juga manajemen waktu, manajemen diri, karena dua hal itu saling berkaitan. Dan yang terakhir, Fleksibel, artinya, rencana-anggaran dan manajemen kita harus mudah disesuaikan dengan kondisi terkini, mengingat kondisi sekarang sedang berubah-ubah tidak menentu.

Dalam menghadapi situasi yang tidak menentu, ketenangan dalam berpikir diperlukan. Buat mereka yang ingin share tentang gelembung ekonomi, silahkan share di sini…