Mengatur THR

THR2

Ketika menerima THR, apa yang umumnya kita lakukan? Apakah disimpan? Diinvest? Dibelanjakan? Kali ini, kami akan coba memberikan tips dalam mengelola THR kita.

Pemerintah sudah meminta perusahaan untuk menyalurkan THR setidaknya dua minggu sebelum hari raya. Dan saat itu kita sering merasa tiba-tiba kaya mendadak, karena dapat gaji dua kali dalam satu bulan. Karena eforia ini, banyak yang tiba-tiba merasa sia-sia mendapat THR, karena habis begitu saja, tanpa mengingat pengeluarannya untuk apa saja.

Maka, guna mencegah kesia-siaan ditengah-tengah eforia ini, kami senang berbagi beberapa tips untuk mengelola THR kita.

Pertama, seperti layaknya dapat gaji bulanan, THR juga perlu dibuat anggarannya, hanya, berbeda dengan gaji yang sudah habis untuk pengeluaran sehari-hari dan program investasi rutin kita, maka THR boleh diperlakukan sedikit berbeda. Beda dalam hal proporsi pembagiannya, berikut kira-kira letak perbedaan proporsinya.

Gaji THR
50% Biaya hidup 50% Pelunasan kredit/biaya mudik
20% untuk investasi  20% Biaya mudik/belanja
10% untuk lifestyle 10% Belanja/bagi keponakan
10% untuk sumbangan 10% Bagi keponakan/oleh-oleh
10% untuk biaya darurat 10% Biaya darurat

Untuk THR tanda “/” dimaksudkan, jika posisi sebelah kiri tidak perlu kita lakukan, maka kita bisa gunakan untuk posisi sebelah kanan, misal, 50% untuk pelunasan kredit, jika kita tidak memiliki beban yang harus dibayar, mungkin sudah ter-cover oleh gaji, maka kita bisa gunakan untuk biaya mudik, begitu seterusnya.

Kenapa biaya darurat disisihkan lagi? Biaya darurat tetap perlu disisihkan dari THR, walau sudah ada porsi dari gaji, karena biasanya biaya-biaya ketika liburan akan melonjak, maka kita perlu membuat ekstra biaya darurat untuk meng-cover porsi dari gaji.

Proporsi di atas hanya sekedar contoh, tiap-tiap individu atau keluarga memiliki pengeluaran yang berbeda-beda. Tapi, meski berbeda, anggaran tetap diperlukan.

Kedua, hati-hati dengan tawaran diskon yang sering kali marak di masa liburan. Disini kami gunakan kata hati-hati, karena memang tidak selamanya diskon itu berbahaya. Dimana letak bahayanya? Diskon bisa berbahaya, karena diskon memang sengaja diberikan guna menarik pembeli untuk berbelanja sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kalap dengan program diskon, sehingga yang tadinya berangkat mudik dengan kantong penuh pundi-pundi, pulang dengan kantong penuh tagihan.

Ketiga, hati-hati juga dengan belanja online. Belanja online memang dibuat untuk mempermudah kita berbelanja, karena tidak perlu antri, tapi dengan kemudahan ini ditambah dengan faktor kedua di atas, program diskon, maka ini bisa mempengaruhi kita sebagai konsumen menjadi bertambah kalap. Karena melihat harga murah murah, dan melihat pendapatan kita yang ekstra di bulan itu, sering kali kita jadi lupa daratan, sehingga uang kita habis hanya untuk berbelanja yang tidak penting. Yang tadinya berencana ketemu sanak keluarga, malah ditunda ke lebaran berikut.

Jadi, kesimpulannya, mumpung THR belum turun, buat dulu anggarannya dari sekarang, buat dulu juga daftar belanjanya dari sekarang, supaya pas THR turun, kita sudah siap “tempur”

Bagi mereka yang punya saran lain untuk pengelolaan THR, silahkan dishare ke kami…”

Tags: