Memulai investasi saham dengan lifestyle analysis

Berhubung awal tahun saya ingin memulai dengan sebuah artikel sederhana mengenai sebuah pertanyaan yang masuk ke email saya tentang investasi Reksadana dan Saham.

 

‘Mas saya awam banget soal investasi, baca buku pertama mas berjudul Investasi Saham ala Swing Trader Dunia saya cuma bisa mengikuti Bab – bab awal. Baca buku ke 2 Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana jauh lebih baik saya setidaknya bisa mengaplikasikannya dengan langsung mengatur keuangan pribadi dan membuka account untuk bisa membeli reksa dana meski cara memilih nya tidak bisa. Namun saya mau coba membeli saham untuk investasi, ketakutan saya adalah membeli saham yang salah.’

 

Saya coba buat sebuah ulasan cara membeli saham yang saya beri nama lifestyle analysis.

 

Coba kita bayangkan bila ada seorang teman yang mau meminjam uang kepada anda. Kita – kira apakah anda akan bertanya sesuatu? Pasti akan muncul setidaknya 2 pertanyaan, ‘uangnya untuk apa?’ dan ‘kapan mau dikembalikan uangnya?’ benarkah?

 

Nah dalam kita mau berinvestasi saham sebenarnya tidak jauh berbeda, ibarat kita mau meminjamkan uang pasti kita harus punya keyakinan bahwa uang kita bisa kembali. Dalam membeli saham perlu kita ketahui bahwa kita sama dengan membeli Perusahaannya.

 

Hanya dengan membeli 1 lot saham bank Central Asia atau BCA maka anda menjadi pemilik perusahaan meski hanya sekian persen dari perusahaan tersebut anda miliki.

 

Artinya membeli saham dengan latar belakang sebuah perusahaan yang jelas dan dikenal akan jauh punya potensi menguntungkan. Karena tentu saja perusahaan yang untung yang akan membagikan keuntungannya. Dalam saham disebut dengan dividen.

 

Jadi sebuah langkah paling mudah dalam memilih saham yang menguntungkan adalah dengan pergi dan berinteraksi pada kehidupan kita Sehari – hari. Kendaraan yang banyak dijalan ber merk apa, apa yang pasti digunakan Sehari – hari, kebutuhan akan kesehatan, makanan yang sering dikonsumsi, sering berbelanja dimana, dan masih banyak lagi.

 

Begitu dapat merk nya apa langsung kita cari tau apa nama Perusahaan nya dan apakah Perusahaan nya menjual sahamnya di bursa.

 

Selain itu saya coba mempersempit pilihan saham dengan mengenalkan 2 istilah bagi anda yang sangat awam yaitu LQ45 dan JII30. Coba di browse di search engine dengan keyword LQ45 diiringi tahun. Nanti akan keluar 45 saham dan 30 nama saham bila JII30. LQ45 adalah 45 saham yang ada di bursa yang aktif diperdagangkan pada periode tertentu dan JII30 adalah 30 saham dengan kriteria syariah atau diakui secara skala bisnis dan sektor nya halal.

 

Dengan memilih saham dari 2 daftar itu dan sudah meyakinkan diri bahwa perusahaan itu cukup memiliki produk yang laku dipasaran adalah sebuah modal utama kita untuk berinvestasi pada saham tersebut.

 

Hal lain yang dapat kita perhatikan adalah jangka waktu. Bila kita membeli saham sebaiknya memiliki tujuan untuk menyimpannya setidaknya lebih dari 1 tahun akan semakin lama akan semakin baik juga.

 

Kebanyakan orang membeli saham dengan pemilihan waktu yang salah. Bagi kita yang ingin berinvestasi sangatlah berisiko membeli saham pada saat semua berita mengenai saham sangat baik. Karena besar kemungkinan harga saham nya lagi mahal.

 

Belilah saham pada Kondisi – kondisi sebagai berikut:
1. Berita mengenai pasar modal sedang lesu dan negatif
2. Nilai tukar rupiah sedang di posisi yang lemah
3. Bunga bank sedang berangsur-angsur naik
4. Terjadi peristiwa secara nasional yang kurang baik bahkan buruk
5. Pada masa menjelang pergantian pemerintahan

 

Karena pada umumnya kondisi – kondisi tersebut disambut kurang baik pada bursa saham.

 

Hindari sebuah langkah yang umumnya orang lakukan pada saat-saat tersebut yaitu justru ikutan menghindari pasar modal.

 

Sebuah langkah paling benar adalah gunakan uang yang Benar – benar untuk investasi. Jangan pernah berhutang untuk kepentingan investasi apalagi berhutang dan kita tidak bisa melunasinya.

 

Sebagai penutup saya ingin memberikan 2 hal paling penting, tidak ada sebuah hal yang pasti, sehingga jangan berharap bahwa sebuah analisa akan memiliki hasil yang pasti benar, namun hal itu tidak perlu membuat kita takut dalam berinvestasi.

 

Ketidakpastian dapat digabungkan dengan kedisiplinan yang akan menyelamatkan kita dari ketidakpastian itu sendiri. Disiplin seperti apa? Tidak berhutang, membeli bukan berdasar pada Ikut – ikutan saja, tetap berinvestasi sesuai rencana, dan tetap terbuka pada setiap hal yang baru.

 

Semoga tulisan sederhana ini dapat mengurangi ketakutan banyak orang untuk bisa memulai investasinya pada saham, karena tidak ada analisa angka dan grafik pada tulisan ini. =)

 

Ryan Filbert Wijaya, S.sn, ME.
Investment advisor, praktisi investasi dan inspirator investasi
@ryanfilbert
www.ryanfilbert.com
www.facebook.com/ryanfilbertdotcom