Malu Bertanya, Sesat Selamanya

Kita semua, terutama para pria, biasanya suka jika melihat diri kita sebagai orang yang pintar, kuat, penuh percaya diri. Inilah yang mengakibatkan kita kadang pura-pura untuk mengerti sesuatu yang sebenarnya kita tidak pahami.

 

Pada acara-acara offline NgaturDuit.com, sudah biasa bahwa peserta pada awalnya pasti tidak ada yang bertanya. Semua masih malu-malu, takut dianggap culun tentang keuangan. Biasanya setelah ada satu atau dua yang mulai bertanya, barulah yang lain cukup PD untuk bertanya.

 

Padahal kalau dipikir-pikir… Memangnya kita HARUS tahu segalanya tentang keuangan? Coba bayangkan posisi saya. Sebagai co-founder NgaturDuit.com, sebuah layanan tentang keuangan, tentu banyak yang berpikir saya paham tentang dunia keuangan. Tidak jarang saya terima email menanyakan produk investasi A atau B. Kenyataannya, saya yakin masih buanyaaaak sekali orang yang lebih paham daripada saya tentang keuangan pribadi, investasi, dan ilmu-ilmu turunan keuangan lainnya. Dan saya tidak malu untuk mengakui itu!

 

Sebenarnya ini semacam jebakan Batman di lingkungan kita. Semakin tinggi seseorang dipandang di masyarakat (petinggi di perusahaan internasional, pejabat negara, professor, dsb), biasanya masyarakat sekitar, dan pada akhirnya orang tersebut, semakin berpikir bahwa dia HARUS paham segala-galanya, termasuk tentang keuangan.

 

Padahal kalau dipikir-pikir, itu kan gila! Mana mungkin satu orang bisa ahli di segala hal? Memangnya kenapa kalau kita tidak tahu segalanya. Lebih baik kita akui tidak tahu dan fokus untuk menjadi ahli pada bidang kita masing-masing, bukan?

 

Jika memang latar belakang Anda bukan keuangan, di acara NgaturDuit.com berikutnya, ingat… Jangan malu untuk angkat tangan dan bertanya. Peserta lainnya yang masih malu-malu pasti senang.