Kredit Tanpa Agunan

KTA

Pernah dapat tawaran KTA? Atau mungkin pernah jadi sales KTA? Apapun itu, banyak dari kita yang tidak asing dengan istilah ini. Tapi apa sebenarnya KTA itu? Apakah KTA itu baik? Ini yang akan kita bahas di artikel kali ini.

Apa itu KTA? KTA atau Kredit Tanpa Agunan/Jaminan, adalah merupakan salah satu program keuangan yang diberikan oleh perbankan atau lembaga keuangan. Karena kredit ini tanpa jaminan, maka umumnya diberikan tidak terlalu besar dari segi plafondnya, mungkin paling besar hanya 250 juta, sedangkan bunga yang diberikan bisa lebih besar dari kredit dengan jaminan, mungkin bisa 2.5% per bulan. Kita bandingkan dengan kredit rumah, yang plafondnya bisa lebih besar dari KTA, bisa seharga rumahnya, kalau rumah 1 milyar, maka kredit rumahnya bisa sampai 1 milyar, dan bunganya mungkin hanya 1.16% per bulannya. Juga kalau KTA mungkin hanya 5 tahun batas pengembaliannya, sedang KPR bisa hingga 20 tahun atau lebih.

Lalu, kalau tanpa jaminan, apakah KTA menjadi berbahaya? Bahkan ada yang alergi dengan KTA, sampai-sampai setiap sales nya menelpon maka telpon atau hp akan dimatikan. Apakah sebegitu berbahayanya KTA? Jawabannya kembali ke tujuan kita menggunakan KTA.

Pada dasarnya KTA sama dengan KPR, dua-duanya adalah program kredit, dan kredit itu sama-sama kewajiban bagi kita sebagai peminjam untuk mengembalikan dananya. Malah kalau dilihat dari segi resiko, akan lebih besar resiko pada pihak pemberi KTA ketimbang pada sisi kita sebagai peminjam, mengapa? Karena mereka menyerahkan dana pada pihak yang tidak dikenal tanpa memegang jaminan, itulah sebabnya ditinggikanlah bunga per bulannya.

Coba bayangkan, kalau dana yang dikeluarkan ada 250juta per orang per bulan, katakanlah kepada 5 orang, lalu dari 5, 3 nya ternyata macet, artinya 750juta dana berpeluang tidak kembali, sedangkan dana tersebut bisa jadi merupakan dana yang diambil oleh lembaga keuangan dari perbankan, maka otomatis lembaga keuangan tersebut juga akan mendapat predikat buruk dari pihak perbankan.

Maka, tidak heran tidak sedikit lembaga keuangan yang gulung tikar karena masalah ini. Dan tidak sedikit juga pihak perbankan yang memilih untuk tidak memberikan KTA ke nasabahnya. Padahal, tekanan dari pemerintah untuk memberi kredit murah sering kali tidak hanya satu atau dua kali saja, mengingat kondisi ekonomi yang sedang melambat.

Oleh karena itu, harus ada kesadaran dari kedua berlah pihak untuk merasa saling membutuhkan, dari pihak pemberi KTA,  membutuhkan nasabah untuk menyalurkan kredit, dan dari pihak nasabah harus konsekuen untuk mengembalikan dananya.

Jadi, sebelum ambil KTA, periksa benar-benar apa tujuan kita? Apakah untuk perluasan usaha? Untuk penambah modal? Refinancing, atau hanya untuk memenuhi keinginan konsumtif kita? Karena, jika alasannya yang terakhir, siap-siaplah kita untuk mengalami kredit macet. Bahkan untuk tiga alasan pertama saja bisa menciptakan kredit macet, padahal untuk usaha.

Setelah tujuan kita tetapkan, langkah selanjutnya, periksa kemampuan membayar kita, upayakan selalu total besaran cicilan per bulan kita tidak lebih dari 30% pemasukan, agar memperkecil peluang kredit macet. Dan, buat plan B, apa yang harus dilakukan kalau kita mengalami kredit macet.

Buat pihak pemberi KTA, mungkin bisa lebih pengertian ke para nasabahnya, artinya adakah solusi buat mereka yang mulai mengalami kredit macet, atau apakah mungkin memberikan bunga yang lebih rendah dari pasar, tapi dengan jangka waktu pengembalian yang lebih lama?

Dengan adanya saling pengertian seperti ini, maka diharapkan KTA bukanlah menjadi momok yang harus ditakuti.

Buatmereka yang memiliki pengalaman manis dengan KTA, silahkan share ke sini…