Konspirasi Hati untuk Disiplinisasi Demi Konsistensi

Halo Semuanya,

Judul diatas mirip sekali dengan tren gaya bahasa yang sempat menjadi buah bibir di Indonesia  Saya sengaja meminjamnya agar bisa menyuguhkan betapa ‘galau’ nya kadang kita dalam berinvestasi maupun trading yang akhirnya membuat diri kita sendiri jadi merugi.

Dalam berinvestasi dan trading, penyakit terbesar yang harus kita hindari adalah ketidak konsistenan dan ketidak disiplinan. Setujukah Anda dengan pendapat tersebut?
Kira-kira pada masa Warren Buffett, apakah Warren Buffett adalah satu-satunya pelaku pada pasar modal yang memiliki ilmu dan pengetahuan? Jawabannya saya yakin 100% tidak.

Lalu mengapa Warren Buffett kini menjadi orang kaya di dunia? Karena bila Anda membaca biografinya, Warren begitu disiplin dan konsisten. Ketika Warren memilih saham untuk di investasikan dia hanya disiplin memilih saham yang dia kenal dengan baik dari segi lini usahanya. Dia tetap disiplin pada metode yang dia pelajari dan teliti terlebih dahulu.

Ketika era berganti apakah Warren Buffett mengubah kedisiplinannya? Jawabannya tidak. Dia tetap berinvestasi dengan disiplin, bahkan perusahaan berbasis IT tidak disentuh oleh Warren Buffett karena dia tetap disiplin pada apa yang sudah menjadi pola dalam investasinya.

Tidak membeli Apple dan Google? Ya dia tidak memiliki keduanya.

Banyak orang yang bertemu dengan saya bertanya mengenai mekanisme trading yang saya lakukan. “Pak, metode itu kurang oke kalau gak pakai tambahan blablaba…” Memang benar metode trading saya sederhana dan cenderung old style, namun saya berusaha mengenal dengan baik metode saya, sehingga tidak heran apapun analisa teknikal nya dan pada sector apapun kombinasi yang saya gunakan ya itu-itu saja.

Sebenarnya metode apakah yang terbaik dalam investasi dan trading? Jawabannya adalah tidak ada yang terbaik, selama Anda menggunakan metode yang berubah-ubah dan tidak konsisten.

Sebuah contoh sederhana yang saya saksikan sendiri mengenai metode trading salah seorang murid saya, suatu hari dia membeli sebuah saham taruhlah harga belinya 1000, dan dia sudah tau betul bahwa 950 adalah stop loss dia harus mengakhiri perdagangan dengan rugi dan 1200 adalah batasan atas untuk mengambil keuntungan. Apa yang terjadi? Sahamnya menyentuh harga 950 dan menuju 940, terlihat dengan betul hal itu sudah akan terjadi dengan melihat komposisi bid & ask dari trade channel. Tiba-tiba dia berkata, “wah ini masih kuat sekali sahamnya, potensinya semakin baik, saya akan keep saja” Dari pola awal melakukan trading dengan rencana jangka pendek jadi mengubahnya untuk keep and hold. Sebuah ketidakdisplinan yang mulai dibangun. Saham nya kembali turun hingga 900 dan itu artinya sudah 10%. Dan murid saya mencari-cari support lain untuk mendukung mimpinya. Dan tentunya sudah terlanjur buy and hold. Akhirnya dari kejadian ini metode nya mengalami perubahan berkali-kali yang semula swing trading menjadi buy and hold strategy dan kembali mengalami evolusi menjadi buy and HOPE method.

Metode trading dan berinvestasi yang terbaik adalah dengan belajar dari metode-metode orang lain yang sesuai dengan gaya kita dan profil kita. Jangan kita memaksakan metode yang tidak sesuai dengan profil resiko yang kita miliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya tidak ada metode investasi maupun trading yang baru, yang ada hanyalah sebuah penyempurnaan yang sudah ada, menurut guru saya “nothing new under the sun”. Pahamilah dengan baik metode tersebut, lalu uji coba beberapa kali dengan penyesuaian gaya kita sendiri niscaya metode tersebut akan baik adanya, lalu jangan kita lupakan disiplin dan konsisten.

Demikianlah artikel ini saya buat semoga bermanfaat!

Salam Investasi untuk Indonesia!

Oleh Ryan Filbert
Investment advisor, praktisi pasar modal, penulis buku “Investasi Saham ala Swing Trader Dunia” dan “Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana”
www.ryanfilbert.com