Khotbah Jumat: Pengeluaran

Kali ini saya ingin share tentang intisari dari khotbah Jumatan yang saya dengarkan pada 18 April 2014 di Pasaraya Blok M. Sebelumnya, saya infokan bahwa Pasaraya Blok M adalah tempat Jumatan favorit saya. Selain memiliki masjid yang bagus, dibandingkan dengan kebanyakan mall yang menggunakan parkiran saja untuk Jumatan, isi ceramahnya biasanya mendalam namun penjelasannya cukup logis, nyambung dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, bahasanya cukup awam sehingga orang biasa seperti saya mudah memahami. Paling tidak bagi saya sih demikian :)

Disclaimer: saya tidak berafiliasi dengan Pasaraya Blok M ataupun masjidnya.

 

Saya share khotbah tersebut karena walaupun konteksnya agama, namun menurut saya apa yang disampaikan bisa diimplementasikan dalam membuat keputusan finansial. Anda penasaran?

 

Tema Khotbah: Pengeluaran Harta

 

Setiap pagi, kita semua berbondong-bondong “menjual diri”. Menjual diri di sini maksudnya memanfaatkan kemampuan dan keahlian kita untuk mendapatkan keuntungan finansial. Di mata Yang Maha Kuasa, hal tersebut wajar, bahkan didukung sebab Allah tidak mau hambahanya hidup dalam kesusahan. Namun setelah mendapat hasil atas kerja keras kita, ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengeluaran.

  1. Jangan habiskan semua yang didapatkan hanya untuk kehidupan ini sebab ada kehidupan selanjutnya (akhirat). Dalam khotbah dijelaskan bahwa pengeluaran yang sifatnya harus dikeluarkan di dunia, keluarkan saja. Namun kita juga harus menyiapkan pengeluaran yang sifatnya untuk tabungan akhirat nanti, seperti berzakat, berqurban, dan sebagainya. Jika Financial Planner/Perencana Keuangan menyarankan untuk berinvestasi demi masa depan, ini lebih jauh lagi sebab masa depannya sudah beda alam :D
  2. Bersyukur dan habiskan di jalan yang diridhoi, maka nikmatnya akan berkembang. Penceramah menyatakan bahwa jika kita memanfaatkan sumber daya untuk berbuat baik, maka pintu rejeki akan dibuka semakin besar. Ini memang sulit dibuktikan secara ilmiah, namun pada kenyataannya benar. Semakin banyak kita membantu, semakin banyak pula yang ingin membantu kita. Mengenai analisa kuantitatif atau kualitatif, silahkan jika ada yang bisa membuat riset ilmiahnya :D
  3. Jika berbuat kesalahan, lupakan dan jangan ulangi. Atau istilah agamanya, tobat. Saya dan Anda pasti pernah dan mungkin akan membuat kesalahan dalam mengambil keputusan finansial. Yang telah terjadi, biarlah terjadi. Namun kita harus belajar dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya kembali. Semakin cepat kita “move on”, semakin baik efeknya terhadap kondisi mental. Justru jika terlalu dipikirkan dan disesali, kita akan menjadi penasaran dan akan mempengaruhi keputusan-keputusan finansial di masa depan secara negatif.

 

Jika menggunakan ketiga panduan di atas, mudah-mudahan hidup kita akan penuh dengan berkah dan kenikmatan. Amin.