Ketahanan Terhadap Resiko

ketahanan resiko

Sekarang kita angkat lagi topik tentang resiko. Topik yang menarik untuk diperbincangkan. Walaupun sumber yang kita ambil dari manajemen resiko untuk sebuah organisasi atau perusahaan, tapi, topik ini juga cukup cocok untuk pribadi, terutama bagi mereka yang ingin masuk ke dalam dunia investasi keuangan.

Sama seperti keuangan, kalau kita sanggup mengelola keuangan pribadi, biasanya akan mudah untuk mengelola keuangan suatu organisasi. Begitupula dengan resiko, jika kita sanggup mengelola resiko secara pribadi, maka diharapkan, kita akan sanggup mengelola resiko suatu organisasi.

Maka, kembali, kami akan mengangkat serangkaian artikel tentang resiko, dan sedikit lebih spesifik dari artikel-artikel sebelumnya.

Kita akan mulai topik pertama kita, Risk Appetite (Ketahanan Terhadap Resiko). Maksudnya apa sih? Mudahnya, ini berarti sejumlah resiko yang bersedia kita terima dalam mengejar tujuan yang strategis. Di sana ada kalimat “bersedia kita terima”, artinya bukan sekedar kita sanggup menerimanya, tapi seberapa besar resiko yang mau kita terima.

Ketahanan terhadap risiko setiap orang bisa berbeda, tergantung dari beberapa hal:

  1. Kondisi finansial seseorang saat berinvestasi menentukan seberapa besar risiko kerugian yang bisa diterima
  2. Tujuan investasi; waktu investasi dan nilai yang menjadi target investasi
  3. Kepribadian atau persepsi kita sendiri  terhadap risiko

Misal, katakanlah saat ini Anda punya dana nganggur Rp 100.000.000,-, untuk diinvestasikan dan sedang berencana membuat portfolio investasi. Anda belum tentu berencana memasukkan semua dana tersebut dalam satu produk investasi, bukan? Yah, kalau kata para investor sukses, investasi sebaiknya disebar ke dalam beberapa instrumen/produk. Cara Anda memilih instrumen investasi dan komposisi dari masing-masing instrumen biasanya ditentukan oleh ketahanan Anda terhadap risiko.

Ketahanan terhadap risiko ada beberapa tingkatan, yaitu:

  1. Averse (Enggan): Tipe ini, lebih suka menghindari resiko.
  2. Minimal: Tipe ini, lebih memilih sesuatu yang sangat aman, dan kalaupun ada resiko, yang berisiko rendah dan hanya memiliki potensi untuk imbal hasil yang terbatas.
  3. Cautious (Berhati-hati): Tipe ini, lebih memilih yang aman yang memiliki tingkat risiko yang rendah dan hanya mungkin memiliki potensi terbatas untuk imbal hasil.
  4. Open (Terbuka): Tipe ini, lebih bersedia untuk mempertimbangkan semua pilihan yang potensial dan memilih salah satu yang paling mungkin untuk menghasilkan keberhasilan.
  5. Hungry (Lapar): Tipe ini, lebih inovatif dan senang untuk mendapatkan imbal hasil yang berpotensi tinggi, meskipun risiko yang melekat lebih besar.

Dengan Mengenali tingkat ketahanan resiko kita bisa membantu dalam mengelola keuangan atau mengelola investasi kita. Jadi, bagus bila kita selalu mengukur tingkat resiko kita setiap mengambil keputusan yang bersifat keuangan terutama yang dalam jumlah besar.

Bagi mereka yang memiliki pengalaman mengelola resiko investasi, atau perusahaan, bisa di share ke sini…