Kartu Kredit untuk Usaha? Hati-hati!

kartu kredit untuk usaha

Kita sudah sering membahas bagaimana cara mengelola keuangan kita, begitupula cara mengelola investasi kita. Tapi kita masih sedikit membahas soal bagaimana cara mengelola kartu kredit. Maka, kali ini kita coba sedikit memperdalam cara kita mengelola kartu kredit.

Banyak pakar atau ahli keuangan yang menyarankan agar total cicilan kartu kredit ditambah dengan cicilan apapun yang kita miliki, idealnya 30% dari total pendapatan kita. Okay, coba kita pegang dulu itu.

Begitu juga banyak pakar yang mengatakan agar tidak menjadikan kartu kredit sebagai pengganti sumber uang kita. Tapi, bukankah yang penting kita sanggup membayar? Kita tidak akan perdebatkan hal itu.

Kali ini, kami ingin memperlihatkan sedikit kegunaan kartu kredit, terutama buat mereka yang menjalankan usaha. Bisa jadi Kita melakukan hal yang sama dan bisa jadi juga Anda tidak setuju dengan penjelasan dalam artikel ini. Tapi ada satu fakta yang tidak bisa kita punkiri, kalau jumlah kartu kredit yang diterbitkan setiap tahun masih mengalami pertumbuhan. Walaupun menurut AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) memperkirakan pertumbuhannya melambat untuk tahun ini, yaitu sekitar 5%, tapi tetap saja masih bertumbuh, yang artinya masih banyak peminat untuk memiliki kartu kredit, bahkan peminat untuk memiliki kartu kredit lebih dari satu.

Kami, tidak akan menjelaskan soal keuntungan kartu kredit bagi kebutuhan lifestyle kita, seperti diskon-diskon, cashback, dll. Keuntungan-keuntungan ini biasanya pemilik kartu lebih tahu, kadang dari sales kartu kreditnya sendiri.

Di sini, kami lebih ingin menyoroti manfaat bagi mereka yang berusaha, karena dalam usaha, ketersediaan dana tunai menjadi salah satu syarat agar usaha dapat terus berjalan. Dana tunai itu seperti aliran darah pada tubuh, tidak boleh lebih, dan tidak boleh kurang. “Yang sedang-sedang saja.” – halah apa coba, kok ngedangdut… J.

Salah satu fasilitas kartu kredit yang bisa dimanfaatkan pengusaha adalah tarik tunai. Nah, sebelum melakukan transaksi, pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah, bunga per bulan dari tarik tunai, ini berbeda-beda tiap bank penerbit, ada yang bunganya lebih kecil dari bunga transaksi dengan kartu kredit sendiri, tapi ada yang sama besar atau lebih besar dari transaksi umum.

Lalu, setelah memperhatikan bunga, lihat juga batas maksimum tarik tunai, biasanya sekitar 80% dari total maksimum kredit yang disediakan, misal maksimum kredit yang diberikan ke kita Rp 3.000.000,- maka batas tarik tunai kita sebesar Rp 2.400.000,-

Berikutnya, perhatikan biaya tarik tunai (fee charge). Ini juga berbeda-beda tiap bank, tapi umumnya sebesar 3% per sekali tarik. Dan terakhir, yang perlu kita perhatikan adalah tanggal terbit tagihan dan tanggal jatuh tempo. Rata-rata jarak antara tanggal terbit dengan tanggal jatuh tempo sekitar 14 hari kerja.

Dari semua poin yang perlu diperhatikan, tanggal jatuh tempo lebih penting untuk kita awasi, karena dari tanggal inilah kita akan ditentukan sebagai nasabah yang baik atau tidak.

Di seri berikut kita akan coba tinjau lebih jauh cara pengelolaannya.

Bagi mereka yang ingin berbagi tips sehubungan dengan penggunaan kartu kredit, silahkan share ke sini…