Kapasitas Resiko

kapasitas resiko

Setelah kita mengenali tingkat resiko (risk appetite) kita, sekarang mari kita bahas tentang Risk Capacity (Kapasitas Resiko).

Apa itu Risk Capacity? Menurut Shawn Brayman BSc. MES Ch.FP, pakar keuangan dari Kanada, Risk Capacity adalah seberapa besar resiko yang sanggup kita tanggung. Supaya tahu berapa besar yang sanggup kita tanggung, kita perlu memiliki tujuan yang spesifik dalam pikiran kita.

Lalu, seberapa penting tujuan kita? Semakin penting tujuan tersebut, semakin kecil resiko yang perlu kita ambil dengan mengalokasikan dana untuk tujuan tersebut. Pada umumnya, semakin peduli kita akan tujuan yang ingin kita capai, maka seharusnya semakin kecil resiko yang perlu kita ambil untuk mencapai nya. Misal, kalau kita punya tujuan untuk membeli rumah, maka kita akan mencari pekerjaan yang sanggup untuk membiayai cicilan rumah, atau berinvestasi pada produk yang tidak terlalu beresiko.

Kapasitas seseorang untuk menanggung resiko berbeda-beda. Selain faktor tujuan, ada beberapa faktor lain yang bisa menjadi penentu seseorang menanggung resiko. Berikut adalah beberapa faktor menurut Karin Maloney Stifler:

  1. Pekerjaan

Seberapa aman jenis pekerjaan kita? Semakin sedikit peluang kita bekerja di luar kantor, semakin besar kapasitas resiko investasi kita. Kalau kita seorang pegawai kantoran, maka kapasitas resiko kita lebih besar, sedangkan kalau kita seorang sales yang sering ke luar kantor, maka kapasitas resiko kita lebih kecil.

  1. Financial safety nets (Jaring Pengaman Keuangan)

Di negeri kita, memang jaring pengaman keuangan belum “aman”, tapi, kita bisa membuat “jaring” ini sendiri, artinya, seberapa besar dana yang kita miliki untuk mengantisipasi kegagalan investasi, atau seberapa besar dana yang kita miliki untuk menjadi “pengaman” aset kita, bisa dengan asuransi salah satunya.

  1. Hutang

Seberapa besar hutang yang sedang kita tanggung? Kalau kita tidak sanggup membayar kartu kredit tiap bulan nya, atau total kredit yang kita miliki saat ini lebih besar dari sepertiga pendapatan kita, maka lupakan investasi yang agresif.

  1. Tidak Cukup Dana

Maksudnya, apa pilihan kita kalau tidak cukup dana untuk mencapai tujuan kita, dan juga tidak ada jalan keluar ketika kekurangan dana, maka jangan ambil resiko dengan tabungan kita.

  1. Pengetahuan Keuangan

Semakin banyak pengetahuan kita akan keuangan, investasi dan resikonya, semakin lengkap kita untuk mengambil keputusan yang cocok dengan minat kita.

  1. Risk Appetite

Kembali ke artikel sebelumnya, coba cek selera kita akan resiko. Apakah, kita tipe yang senang mengambil resiko? Apakah kita melihat kesempatan atau bahaya pada suatu resiko?

  1. Komitmen Keuangan

Yang terakhir, sebrapa besar komitmen kita akan keuangan kita sendiri. Lihat jauh ke depan, kalau kita sudah lansia atau masih memiliki anak-anak yang harus kita tanggung atau ada “balloon payment” yang memiliki jaminan, ini berarti kapasitas resiko investasi kita kecil.

Kenali sejak dini kapasitas resiko kita, agar kita mudah memilih produk investasi yang cocok.

Bagi mereka yang telah berhasil mengenali kapasitas resiko mereka, silahkan klik di sini…