Jangan investasi emas? Tahukah Anda, bahwa sebagaimana halnya investasi properti yang mensyaratkan lokasi yang strategis, keabsahan surat dan legalitas kepemilikan, juga aneka kondisi ideal yang dituntut berbagai jenis investasi lainnya, investasi emas juga punya rambu-rambunya.

 

Dalam berbagai kesempatan menyampaikan materi yang berisi dasar-dasar investasi emas di berbagai seminar, saya kemudian merangkum rambu-rambu ini dalam “10 DON’Ts” sebagai berikut :

 

  1. JANGAN LIHAT HASIL AKHIR SAJA. Ada aspek resiko, aksesibilitas, kemampuan lindung aset & likuiditas yang harus Anda pertimbangkan. Ini juga berlaku untuk semua jenis investasi. Jika Anda bertemu dengan tawaran 2 jenis investasi, bandingkan ke-5 aspek tadi. Pertimbangkan dan perhitungkan matang-matang. Misalnya Anda berinvestasi di properti pasif atau emas atau malah saham? Seandainya bertemu kesempatan bisnis riil atau emas, mana yang Anda pilih? Jawabannya tentu pilih bisnis. Seluruh investasi yang asetnya riil, akan memberi perlindungan nilai asset. Demikian juga tingkat return, bisnis yang berkah akan memberikan keuntungan berlipat di atas emas.

 

  1. JANGAN ASAL INVESTASI, TENTUKAN TUJUANNYA. Ada 3 tujuan berinvestasi emas, yaitu untuk tabungan atau hedging atau dana darurat, atau untuk rencana jangka panjang. Bisa juga untuk mendapatkan cash. Masing-masing tujuan investasi emas punya konsekuensi. Sesuaikan dengan kemampuan Anda. Take it easy, pemula biasanya lebih baik untuk tabungan. Yang sedikit perlu ekstra perencanaan di awal adalah untuk kebutuhan jangka panjang. Ada baiknya menghitung di awal kebutuhannya. Dengan cara ini menabung emas akan jadi terarah. Tentukan juga target dan batas waktu yang ingin Anda capai. Beli-gadai bertingkat termasuk yang high-risk. Tujuannya untuk mendapatkan cash di waktu tertentu, bukan untuk mendapatkan emas. Bisa untung, namun bisa juga buntung. Pahami konsekuensinya dengan benar. Cara mendapatkan uang cash dari emas sebenarnya adalah dengan memperjual-belikannya atau menjadikannya modal usaha.

 

  1. JANGAN KEHILANGAN FISIKNYA. Kadang Anda disuruh menyerahkan uang, lalu Anda hanya pegang kuitansi atau sertifikat. Ini tidak benar. Kecuali memang Anda berniat dari awal untuk menitipkan (di servis penitipan). Harus ada perjanjian tertulis untuk itu. Ini sering diingatkan karena salah satu kesaktian emas adalah likuiditasnya. Fungsi likuiditas mustahil berfungsi kalau Anda tidak pegang fisik emasnya. Emas juga adalah pasangan ideal untuk bisnis. Emas  bisa menaikkan nilai bisnis sekaligus likuid jika perlu dana segar yaitu dengan cara digadai atau dijual. Karena itu pastikan fisik emasnya dipegang atau menjadi sepenuhnya milik Anda meski dalam posisi tertitipkan.
  2. JANGAN SPEKULASI. Jika Anda memahami DON’Ts ke-2 tadi, apalagi pemula, pasti ini akan dijauhi. Spekulasi ini bermakna banyak. Bisa skema beli-gadai bertingkat tadi, atau diputar di derivatif berkedok emas. Terlalu beresiko untuk pemula. Meski rata-rata tetap diatas kenaikan 20% per tahun, sebagaimana harga komoditas lain, juga sebagaimana return di berbagai jenis investasi, harga emas naik-turun. Bisa naik hingga 27% per tahun, atau 22% di tahun lalu (2011). Demikian performa emas per tahun. Dalam hitungan bulan, atau bahkan mingguan, gerakan harga emas bisa lebih tajam. Itu sebabnya berbagai metode yang menjanjikan kenaikan nilai emas sekitar 30% fixed per tahun untuk tujuan beli-gadai bertingkat bisa merugi.

 

  1. JANGAN LIHAT GRAFIK JANGKA PENDEK. Lebih baik jangka panjang jika telah memutuskan berinvestasi di emas. Misalnya untuk proteksi asset dan rencana jangka panjang.

 

  1. JANGAN MEMBABI BUTA. Saking semangatnya, kadang ada yang merasa harus menghijrahkan dananya ke emas. Padahal jikalau dana Anda sebentar lagi akan digunakan (dibawah 1 tahun), jangan memaksakan diri untuk membeli emas. Siapkan dana cash saja. Konversikan HANYA uang cash Anda yang tidak akan digunakan dalam waktu satu tahun ke depan dalam bentuk emas.

 

  1. JANGAN INVESTASI EMAS DI BENTUK YANG TAK LAZIM (TIDAK SELLABLE), seperti granule atau emas lokal bongkahan. Kurang likuid jika perlu dana karena marketnya sempit. Koin emas (dinar) dan batangan masih jadi pilihan yang likuid secara nasional bahkan di dunia. Emas lokal boleh digunakan asalkan  memiliki bentuk yang standar atau berasal dari pabrikan. Emas berbentuk bongkah atau granule lebih cocok untuk jual-beli dari atau ke industri atau pengrajin. Investor individual tak sesuai berinvestasi di emas jenis ini.

 

  1. (sebisa mungkin) JANGAN PERHIASAN jika untuk tujuan investasi. Perhiasan untuk fashion saja. Ongkos yang harus kita bayar ketika beli besar, sama besarnya ketika kita menjualnya saat memerlukan dana.

 

  1. JANGAN MENIMBUN. Hal ini masih jadi bahan perdebatan dan agak panjang uraiannya. Memang sebaik-baiknya harta adalah yang berputar. Menimbun itu relatif. Tidak adil jika disebut menabung Rp 200 juta (dalam bentuk tabungan atau deposito) tidak disebut menimbun, sementara menyimpan 100 gram emas dituduh menimbun. Padahal masing-masing punya konsekuensinya. Zakat harus dikeluarkan kalau harta tersimpan. Manfaat ekonomi-sosial akan diperoleh jika harta Anda berputar. Tunaikan saja setiap konsekuensinya. Soal “menimbun emas ini pernah saya kupas disini : http://bit.ly/gT1Tra

 

  1. JANGAN RAGU-RAGU. Dengan kesadaran bahwa emas naik dalam jangka panjang, dana menganggur minimal setahun jika Anda konversikan ke emas akan baik hasilnya. Konversi ini bisa berasal dari tabungan atau deposito yang hasilnya kurang menjanjikan

 

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Salam

Endy J. Kurniawan | Penulis Buku Best Seller Nasional “Think Dinar” | Penasihat Investasi Emas dan Perak | Founder & Owner SALMA DINAR – distributor Emas Batangan, Perak & Dinar Nasional | Follow @endykurniawan & @salma_dinar | visit www.endyjkurniawan.com & www.salmadinar.com

 

Disclaimer:

Segala opini, kesimpulan dan informasi lain yang terdapat di dalam tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan belum tentu mewakili pendapat atau pandangan NgaturDuit.com

 

Isi dari tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai saran untuk membeli atau menjual produk keuangan mana pun. Semua transaksi yang dilakukan merupakan tanggung jawab masing-masing.