Perekonomian Indonesia Tumbuh, Bagaimana Dengan Kita?

pertumbuhan-ekonomi

Dalam 10 tahun terakhir ini, Indonesia semakin menjadi sorotan dunia, dalam hal keberhasilannya membuat pertumbuhan yang cukup signifikan dan berkesinambungan. Rata-rata pertumbuhan pertahun sekitar 5-6%. Hal ini membuat daya tarik tersendiri buat negara-negara maju menanamkan investasinya di Indonesia. Maka, pertanyaan selanjutnya muncul, lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Karena kita akan membahas dari sisi perencanaan keuangan, pertanyaan di atas akan kami ubah sedikit menjadi, “Indonesia tumbuh, lalu bagaimana dengan kita?” Jawabannya bukan sekedar ingin mengetahui keadaan kita dengan pertumbuhan Indonesia, tapi juga bagaimana dengan apa yang akan kita lakukan ditengah kondisi sekarang ini?

Memang, dari tahun kemarin dan tahun ini, pelambatan ekonomi Indonesia mulai terasa, tapi, sama seperti sebuah kendaraan yang sedang melaju, melambat itu seringkali diperlukan, sebelum bisa melaju lebih kencang lagi. Pertanyaan buat kita selain yang di atas, adalah apakah kita tetap ikut lajunya kendaraan ini? Untuk menjawabnya, pertama-tama kita perlu tahu dulu, ada di posisi mana kita?

  1. Investor

Apakah kita seorang investor? Sebagai seorang investor, kita pasti mengetahui, kalau masuk ke “jaman” ekonomi melambat, kita bisa mulai konsolidasi, dan mulai lihat produk investasi apa yang sedang murah tapi berpeluang untuk berbalik menguat. Tapi, kadang kita sering terjebak pada pertanyaan mendasar, “di kondisi begini, investasi apa yang berpeluang menguat? Kapan bagusnya masuk pasar?”

Untuk mempermudah melihat mana yang bakal menguat, perlu melihat produk investasi yang bersifat jangka panjang, kalau kita investor pada produk saham, kita bisa melihat pada saham-saham infrastuktur, karena ini yang sedang digalakkan pemerintah, setidaknya 3-5 tahun mendatang.

  1. Pengusaha

Bagi kita yang buka usaha, sering perlambatan ekonomi dijadikan alasan untuk mengurangi produksi atau mengurangi karyawan. Meski hal itu mungkin tidak menutup kemungkinan bila usaha sudah terlalu melambat, tapi istilah “jangan terburu-buru” tetap bisa kita terapkan. Apalagi, walau kondisi ekonomi melambat, tidak sedikit pihak perbankan dan juga lembaga-lembaga keuangan yang memberikan kredit usaha. Karena, mereka mengetahui dan juga belajar dari pengalaman, kalau usaha tetap berjalan, khususnya usaha kecil tetap berputar, maka roda perekonomian tetap bergerak, dan ini akan ber-efek ke sektor-sektor lainnya.

  1. Karyawan

Jika kita seorang karyawan, sering bila masuk ke kondisi yang kurang menguntungkan, merasa “mager” (males gerak) untuk bertindak, apalagi kalau “mager”nya juga termasuk membuat pagar ke diri sendiri artinya memberi terlalu banyak batasan buat kita untuk bergerak maju.

Untuk mengatasinya memang semuanya berpulang pada diri kita, apakah kita tetap mau dikondisi sekarang atau mulai membuat perubahan. Nah, buat yang membuat perubahan, kita bisa coba melirik ke dua nomor di atas, kita bisa mulai belajar jadi seorang investor atau kita bisa belajar menjadi seorang pengusaha.

Sekarang cukup banyak buku-buku dan kelas-kelas untuk belajar investasi atau memulai usaha. Kita bisa ikut seminar-seminar dari yang gratis hingga yang berbayar. Kita juga bisa coba dating ke Bursa Efek Indonesia, untuk belajar menjadi seorang investor efek yang baik, dan gratis pula.

  1. Pelajar

Seperti karyawan, pelajar lebih mudah untuk “mager” bila kondisi mulai menguntungkan. Selain “mager”, tidak seidikit juga pelajar yang dilarang oleh orang tua atau orang yang dituakan untuk melakukan sesuatu yang diluar dari aktifitas sekolah mereka terutama belajar.

Tapi, bukan anak muda namanya kalau tidak mencoba sesuatu yang baru. Ya, mencoba sesuatu yang baru yang bersifat positif, kenapa tidak? Kita bisa mulai coba tanya mbah google atau mbah wiki, untuk mencari topik-topik tentang bisnis, investasi, dan perencanaan keuangan.

Yang menarik nya, ketiga topik ini kalau dipraktekan tidak perlu mengeluarkan modal besar, cukup bermodalkan uang jajan juga sudah bisa. Penasaran? Bisa mulai coba tanya ke kedua mbah di atas. Kami mengkategorikan “Orang Biasa” adalah mereka yang tidak masuk dalam 4 golongan di atas, ini bisa ibu rumah tangga, pensiunan, atau yang sedang galau memilih golongan di atas, apakah mau invest, buka usaha, kerja, atau belajar lagi.

Untuk ibu rumah tangga, memang tidak mudah mengurus rumah tangga sambil menambah aktifitas lainnya, tapi buka usaha atau men-investasikan dana nya, karena bisa dilakukan di rumah dan bisa disambi dengan mengurus rumah.

Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang pensiun, baik dini atau memang sudah waktunya, bisa juga mulai dengan buka usaha, tapi untuk mereka yang memang sudah masuk usia pensiun, mungkin lebih cocok untuk investasi. Pertama, karena buka usaha cenderung lebih menguras tenaga dibanding investasi, dan investasi lebih banyak bisa dilakukan dari rumah dibanding dengan buka usaha.

Tapi, buat ibu rumah tangga dan para pensiunan yang masih mau sekolah lagi juga tidak masalah, karena ini juga merupakan investasi ke diri sendiri. Dan lebih sering banyak manfaatnya dari sekadar buka usaha atau investasi.

Dan, untuk mereka yang masih galau dengan pilihan, bisa coba beberapa pilihan di atas sekaligus, misal, sambil kita cari kerja kita bisa buka usaha kecil-kecilan atau invest dana yang kita miliki, atau bisa juga sambil belajar lagi.

Dengan pertumbuhan atau pelambatan ekonomi yang bisa saja terjadi berulang-ulang, semuanya berpulang kembali ke kita nya, apakah mau jadi penonton atau pemain?

Bagi mereka yang ingin sharing pengalaman, silahkan share di sini…