Hutang Baik

Banyak orang bilang berhutang itu tidak baik. Kenapa berhutang itu tidak baik ? ya, karena kita memiliki kewajiban untuk membayarnya nanti dengan jumlah yang lebih besar dari hutang awal kita karena ditambah dengan bunga. Belum lagi kata-kata, “hutang dibawa mati”, maka bertambah beratlah kita untuk berhutang. Dalam hukum waris itu sendiri, kalau kita memiliki hutang saat meninggal, maka beban hutang itu akan ditanggung oleh para ahli waris kita, yaitu anak anak kita atau keluarga kita.


Lalu kenapa hutang itu disebut baik ?
Hutang bisa dibilang baik apabila kita meminjam uang untuk membeli barang atau aset yang bertambah nilainya sepanjang waktu hutang kita.

 

Contoh :
KPR atau kredit pemilikan rumah, adalah salah satu contoh dari hutang baik. Jangka waktu kredit rumah kita cukup lama, biasanya antara 10 sampai 20 tahun. Bunga yang dikenakan atas hutang kita juga cukup besar antara 10% – 15% pertahunnya. Kalau ditotal total, setelah 10 tahun, total yang kita bayarkan bisa hampir 2x lipat dari harga rumah diawal kita membeli. Tapi, cobalah lihat setelah 10 tahun lagi, berapa harga rumah kita ? hampir 3 x lipat dari harga rumah awal.

 

Cobalah lihat perhitungan Hutang KPR dibawah ini:

Besarnya Hutang                50,000,000
Periode 10 tahun
Bunga KPR 12%
Kenaikan Harga Rumah 10%
Cicilan per Bulan                  7,173,547
Nilai rumah (FV)          1,296,871,230
Total Pembayaran              860,825,690

Dengan asumsi bunga KPR kita sebesar 12% pertahun, maka cicilan per bulan adalah sebesar Rp. 7.173.547. Dalam 10 tahun total dana yang kita bayarkan adalah sebesar Rp. 860,8 juta. Atau 1,7x dari hutang kita pada Bank.

 

 

Berapakah harga rumah setelah 10 tahun ?
Dengan asumsi kenaikan harga rumah sebesar 10% per tahun, dan harga rumah sama dengan besarnya hutang kita (agar mudah dibandingkan), maka setelah 10 tahun harga rumah kita menjadi sebesar Rp. 1,3 miliar. Yang artinya harga rumah kita telah naik 260% atau 2,6 x dari harga rumah saat kita mengambil kredit.

 

Apa yang bisa kita simpulkan ? dengan modal Rp. 860 juta, kita mendapatkan hasil sebesar Rp. 1,3 miliar. Not bad kan ?

 

Hutang apa saja yang bisa masuk dalam kategori baik ?
Contoh sebelumnya adalah apabila kita berhutang untuk membeli rumah atau properti. Yaitu aset yang akan bertambah terus nilainya. Membeli apartemen, ruko, condominium, tanah adalah contoh-contoh properti. Selain properti, yang bisa masuk dalam kategori hutang baik adalah apabila kita berhutang untuk membeli emas, walaupun mungkin kenaikan nilainya tidak setinggi properti.

 

Bagaimana kalau kita berhutang untuk modal bisnis ?
Hutang untuk modal bisnis merupakan salah satu hutang yang baik. Dengan uang pinjaman, kita bisa mendongkrak bisnis kita untuk memberikan keuntungan yang baik bagi perusahaan. Hanya saja, resiko bisnis lebih tinggi dari properti. Bisa saja bisnis yang kita jalankan tidak berhasil dan tidak memberikan keuntungan. Kalau sudah seperti ini, maka kita harus menanggung cicilan hutangnya.

 

Apakah hutang baik bisa merusak keuangan kita ?
Bisa, kalau kita terlalu banyak mengambil kredit dan cicilannya sangat mengganggu cash flow kita. Maksimal dari cicilan hutang adalah sebesar 1/3 dari penghasilan kita. Artinya kalau penghasilan kita sebesar Rp. 10 juta, maka maksimal cicilan hutang kita adalah sebesar Rp. 3,5 juta per bulan. kalau kita memiliki cicilan hutang yang besar misalnya sebesar Rp. 5 juta, maka kemampuan kita membayar jadi berat dan bisa mengganggu kenyamanan hidup kita.

 

Jadi, seberapa banyakkah hutang baik kita sekarang ?

 

Tejasari CFP®