Hal yang Mempengaruhi Perilaku Investor

Buy-or-Sell

Beberapa waktu lalu kita sudah pernah membahas tentang tipe konsumen. Dimana dengan analisa ini, kita jadi tahu apa penyebab pasar bergerak secara tiba-tiba.

Dalam artikel kita kali ini, kita akan sedikit perdalam analisa psikologis ini, walau kita tidak akan bahas terlalu detil. Yang kita bahas hanya empat sifat umum manusia dalam menyikapi suatu peristiwa tertentu. Dengan baca artikel ini setidaknya kita jadi tidak terlalu mudah ikut-ikutan dengan pasar (follow the market).

  1. Worried

Woried atau kuatir adalah sifat bawaan kita ketika mendengar berita negatif. Misal, kalau kita tiba-tiba baca ada pesawat tergelincir, kita langsung punya rasa kuatir, meski tidak ada korban jiwa. Begitu pula ketika dengar berita investasi bodong, kita biasanya kuatir kalau-kalau investasi yang ditawarkan ke kita juga bernasib sama.

Sifat ini wajar, tapi kalau berlebihan bisa buat kita stres, dan malah mengambil keputusan atau langkah yang salah. Itulah sebabnya, saat kita dapat berita negatif yang menyangkut dana kita, perlu kita periksa dengan seksama. Bahkan seharusnya sebelum berinvestasi, kita harus periksa dengan seksama, begitu pula ketika memutuskan masuk pasar, sifat kuatir ini harus kita minimalisir dengan salah satunya manajemen resiko.

  1. Fear

Rasa kuatir yang berlebihan bisa memicu ketakutan atau fear. Misal, tadi berita tentang pesawat yang tergelincir, akan membuat kita takut menggunakan pesawat, apalagi kalau yang tergelincir selalu pesawat dari maskapai yang sama. Kita mulai takut menggunakan maskapai tersebut.

Begitu pula dengan transaksi yang kita lakukan di pasar. Misal, kita sedang bertransaksi valas Euro, lalu kita mendengar berita negara Yunani mengalami default, awalnya rasa kuatir muncul, namun setelah sekian lama tidak kunjung ada penyelesaian yang berarti, mulai dihantui rasa takut.

Kembali, untuk mengatasi nya perlu manajemen resiko dan kurangi rasa kuatir yang menjadi pemula rasa takut, tentu ini bisa dikurangi selain dengan manajemen resiko juga dengan pengalaman atau seringnya kita bertransaksi di produk yang sama, sehingga kita benar-benar mengenali karakteristik produk investasi kita.

  1. Panic

Kalau sudah terlalu takut akan suatu hal, biasanya kecendrungan kita adalah menjadi panik. Dan panikini bisa membuat kita bertindak diluar akal sehat. Malah bisa juga membuat kita terserang penyakit, itulah sebabnya ada istilah “panic attack.”

Dalam perbankan, panik dimasyarakat sangat diperhatikan, karena kalau sampai terjadi, maka akan menimbulkan “rush” atau penarikan uang secara besar-besaran di bank atau atm. Ini bisa membuat sebuah bank sebesar gajah pun bisa kolaps tiba-tiba.

Begitu pula dalam pasar saham, komoditas atau valas. Kalau tiba-tiba pasar terserang “panic attack” maka pasar bisa default, atau jika itu terjadi pada satu saham perusahaan, maka pihak bursa akan segera menghentikan perdagangan saham yang bersangkutan.

  1. Hope

High risk – high return, begitu kira-kira slogan di kalangan pelaku pasar. Begitu juga dalam setiap berita negatif atau peristiwa negatif, biasanya ada secercah harapan yang muncul. Dan harapan ini harus selalu kita miliki walau kita sedang mengalami kerugian sekalipun.

Ketika banyak yang panik di pasar, tidak jarang yang punya harapan karena mendapatkan harga murah.

Semua ini kembali ke kita, apakah kita lebih senang mengikuti tren (atau follow the market) atau melawan tren (against the market)? Apakah, kita siap dengan segala resiko yang terjadi? Dalam transaksi di pasar apapun, pasar barang-barang atau pasar efek sekalipun, tren akan selalu ada, penjual dan pembeli akan saling mempengaruhi secara psikologis.

Sifat mana yang paling mudah mendominasi kita? Silahkan share ke sini…