Fundamental atau Eforia?

Tahun lalu Indonesia masuk dalam kategori “Fragile Five Economies”. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki defisit perdagangan yang sangat besar, yang artinya kita bergantung pada dana luar negeri. Sejak lama Indonesia selalu memiliki defisit perdagangan negatif. 

Saat bank sentral AS (the Fed) tahun lalu memutuskan untuk mengurangi pembelian obligasi (Quantitative Easing), potensi return yang didapatkan di negara-negara maju menjadi lebih tinggi. Akibatnya minat investor asing untuk berinvestasi di negara berkembang, seperti Indonesia, jauh berkurang.

Efeknya sangat terasa saat IHSG dan Rupiah sama-sama turun 20% dari titik tertingginya pada paruh kedua 2013. Volatilitas yang besar membenarkan masuknya Indonesia ke dalam kategori “Fragile Five”.

Namun ternyata pada Kuartal ke-4 2013 Indonesia mengalami surplus perdagangan cukup besar. Hal tersebut, dan anggapan bahwa ekonomi Indonesia sudah murah (oversold), menarik minat investor asing untuk kembali masuk Indonesia.

Hal ini tercermin dari kenaikan IHSG +9% dan Rupiah +6% sejak awal 2014 hingga bulan Maret. Bahkan dari seluruh mata uang di dunia, Rupiah merupakan mata uang dengan performa terbaik vs USD pada 2014! Investor sampai tutup mata terhadap pengumuman defisit perdagangan Januari 2014 yang sebesar $430 juta (sebelumnya diperkirakan surplus $600 juta) tak dipandang dengan justifikasi bahwa defisit tersebut diakibatkan larangan terhadap ekspor tambang.

Namun demikian, beberapa pihak menilai bahwa kenaikan luar biasa tersebut tidak hanya karena fundamental, namun juga eforia pasar. Apalagi jika ditambah kenaikan fantastis Jumat (14 Maret) kemarin akibat pengumuman Pak Jokowi untuk maju sebagai capres.

Bank Indonesia menyatakan bahwa penguatan Rupiah belum tentu baik karena ditakutkan akan mempengaruhi ekspor, yang pada akhirnya akan kembali meningkatkan defisit perdagangan. Sulit juga ya… Kalau turun banyak yang komplain, naik pun banyak yang komplain hehe

Menurut saya, ekonomi kita saat ini telah memasuki wilayah bullish namun sudah harus mulai berhati-hati dan mengawasi perkembangan ekonomi. Sebab jika kenaikan IHSG dan Rupiah tidak dibarengi dengan perbaikan ekonomi riil, maka pasar akan kembali menyesuaikan diri (potensi koreksi).

Beberapa hal yang menurut saya harus kita perhatikan dalam jangka waktu dekat – menengah adalah:

  1. Politik dalam negeri (pemilu). Majunya pak Joko Widodo sebagai capres tentu mengubah peta pertarungan, namun perlu diingat bahwa dia hanya boleh maju jika PDI Perjuangan mendapatkan suara di atas batas syarat. Jika ternyata nanti beliau berhasil menjadi presiden RI, perhatikan kebijakan yang akan dikeluarkan. Ini asumsi saya saja, namun melihat track record apa yang beliau lakukan dengan Jakarta, kemungkinan sebagai presiden, subsidi BBM akan dicabut dan fokus untuk memperbaiki infrastruktur.
  2. Efek penguatan ekonomi. Kenaikan IHSG dan Rupiah menunjukkan harapan bahwa ekonomi Indonesia akan meningkat. Namun harapan tersebut harus dipenuhi di ekonomi riil dan jika ternyata tidak terjadi, maka paruh kedua 2014 akan diisi dengan koreksi.
  3. Geopolitik Internasional. Ketegangan antara Rusia dengan Ukraina masih belum jadi pertimbangan dunia. Hal ini karena Ukraina bukanlah ekonomi besar dan tidak ada keterkaitan dengan komoditas tertentu (minyak, emas, dsb). Yang perlu diperhatikan adalah jika ketegangan tersebut mulai menarik ekonomi-ekonomi lain, seperti Amerika misalnya. Tanda-tandanya sudah mulai terlihat, seperti yang diberitakan di sini.

Anda punya komentar atau pendapat lain? Silahkan komentar di bawah :)