Cara Memilih Saham dengan Benar

Coba google “stock picking strategies” atau “strategi pilih saham”. Anda akan menemukan jutaan hasil. Beberapa strategi tersebut berguna, namun sebagian besar tidak. Tanyakan kepada kawan yang sudah berinvestasi di saham dan dia mungkin bisa cerita caranya memilih saham. Namun pada kenyataannya, sebagian besar investor/trader saham perorangan merugi.

Cara Mayoritas Investor/trader Memilih Saham
Mayoritas investor/trader tidak paham tentang apa yang mereka lakukan saat memilih saham. Mereka tidak paham apa yang harus dibeli, kapan harus masuk dan kapan harus keluar. Mayoritas pelaku pasar memilih berdasarkan apa yang tertulis di media. Mereka membaca apa yang ditulis analis dan menelannya dengan bulat. Lebih parah lagi adalah mereka yang mendapatkan “tips” dari teman saat nongkrong bersama.

Cara Memilih Saham yang Benar
Mungkin 50% yang membaca tulisan ini sudah menutup artikel dan memilih berinvestasi di reksa dana saja. Bagi yang masih membaca artikel ini, berarti hebat karena belum takut baca pengalaman kawan saya di atas :)

Lihat kalimat terakhir di bagian intermezzo di atas. Ada kata-kata “rencana terstruktur”. Setiap pemilihan saham harus dilakukan setelah melakukan riset. Saya teringat kata-kata dari salah satu mentor saya; Saham is Boring. Ternyata memang betul, apalagi di Indonesia. Saham-saham yang terbukti bagus dari dulu ya itu-itu saja. Enak dan tidak enaknya pasar modal kita adalah hanya ada 500 saham pilihan. Dari 500 itu, paling hanya 30-50 yang layak kita lihat. Bandingkan dengan pasar di Amerika Serikat yang memiliki ribuan perusahaan bagus.

Di acara Wealth Management Mastery, pada kelas Core Investing (Reksadana & Saham), kami mengajarkan cara memilih saham yang benar. Saya tidak mungkin menjelaskan semua dalam tulisan, namun ini adalah beberapa tips bagi investor pemula:

  1. Produk apa yang Anda gunakan setiap hari? Bank yang banyak nasabahnya, sabun sejuta umat, tepung/mie instan paling enak?
  2. Perusahaan mana saja yang secara reguler memberikan dividen? Artinya perusahaan tersebut sehat/profitable. Ini memang butuh sedikit riset, namun bagi yang mau bocoran, bisa tanya ke mitra kami, Ryan F. Dia punya datanya :)
  3. Saham dengan Market Cap besar & Likuid. Kita sering mendengar istilah Blue Chip. Sebenarnya definisinya cukup rancu, dan oleh karena itu saya lebih memilih untuk menyatakan lihat market cap dan likuiditas. Market cap adalah nilai perusahaan (jumlah saham x harga saham) sedangkan likuiditas adalah banyaknya transaksi harian saham tersebut. Jika memiliki market cap yang besar di industrinya, artinya dia market leader. Semakin likuid sebuah saham, maka semakin mudah kita untuk mencari penjual/pembeli.

Mindset yang Benar
Apakah Anda investor atau trader? Anda mencari keuntungan setelah 10, 20 tahun atau mencari penghasilan jangka pendek? Banyak investor dan trader yang mindsetnya tertukar atau bahkan lebih buruk lagi, mindsetnya disesuaikan dengan kondisi portfolio. Jika untung, jual dan mendapatkan selisih harga. Jika rugi, ditahan dan menjadi investor jangka panjang.

Apakah Anda sudah menjadi pelaku pasar saham? Jika sudah, tolong share apa saja strategi pemilihan saham Anda.