Bulan Ramadhan Sebagai Pilot Testing

ketupat

Menjelang bulan Ramadhan, ada satu hal yang selalu terjadi, yaitu harga-harga naik. Sedang pendapatan kita mungkin tidak terlalu signifikan naiknya, walau THR sudah keluar. Karena pengeluaran juga biasanya bertambah.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ini yang akan kita coba bedah di artikel kali ini.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan, kita perlu tahu dulu apa penyebab harga-harga naik? Salah penyebab kenaikan harga adalah demand yang meningkat, sedangkan supply biasanya terbatas, sehingga harga mulai merangkak dengan pasti.

Karena kita tahu demand meningkat, maka hal ini bisa dijadikan peluang bagi kita untuk menambah kocek guna membantu menutupi pengeluaran kita yang juga ikut merangkak naik. Bulan ini bisa kita jadikan pilot project kita, untuk membuka usaha rumahan, tapi ingat, upayakan jangan menjadi sekedar pengusaha musiman. Kenapa? Karena, kalau usaha rumahan kita ini berjalan baik, maka bisa dijadikan usaha sampingan guna mengatasi inflasi yang pasti terjadi di negri kita selama negri kita masih menjadi negara berkembang.

Usaha apa yang kira-kira cocok dilakukan selama bulan Ramadhan, dan yang memiliki peluang berlangsung terus? Ini adalah usaha yang bersifat kebutuhan pokok, kebutuhan hari raya, dan beberapa yang bersifat lifestyle, misal, usaha makanan, buah, kue, pakaian, dsb.

Dalam memulai suatu usaha, setidaknya ada tiga hal dasar yang perlu cepat kita dapatkan informasinya, pertama, pangsa pasar, kedua, keunikan, dan terakhir harga. Dari mana kita dapatkan info-info ini?

Bisa dari kita bergosip dengan tetangga, misal, katakan di RT kita ibu-ibu suka bikin kue kering untuk oleh-oleh. Nah, kita bisa pilih, apakah mau ikut arus dengan bikin kue kering juga, atau kita ambil lawan arus, mungkin dengan bikin kue basah. Kalau kue kering biasanya buat oleh-oleh, nah kue basah bisa untuk acara-acara seperti arisan ibu-ibu, dsb.

Cara kedua mendapatkan info, adalah dengan baca majalah, koran, surfing di internet, dan dari media lainnya. Untuk cara yang terakhir ini, bisa kita kembangkan untuk mencari info harga, info pemasok bahan, dan juga info pangsa pasar yang lebih luas.

Setelah kita mengumpulkan info, langkah selanjutnya adalah, kita perlu menghitung biaya yang akan kita keluarkan untuk membuat produk atau usaha yang kita inginkan. Kita juga perhitungkan waktu yang kita habiskan untuk produksi atau waktu yang kita habiskan untuk berbelanja.

Dua langkah di atas perlu cepat kita tentukan, karena menyangkut harga jual yang akan kita tetapkan. Jangan sampai, harga bahan-bahan yang kita peroleh murah, dan harga produksinya murah, tapi ternyata waktu yang kita habiskan terlalu banyak dan bisa dibilang menyita waktu kita. Ini bisa membuat kita produktif tapi kelelahan, sehingga bila dihitung, pada akhirnya tidak murah. Misal, katakanlah kita bikin kue “putih salju” (kebetulan ini kue favorit, J), setelah kita hitung modal yang diperlukan untuk bahan dan biaya produksi, kita dapatkan harga jual 1 stoples Rp 35.000,-

Tapi, setelah kita bikin, karena kekurangan tenaga produksi, ternyata kita hanya mampu produksi 10 stoples sehari, itupun kita sudah segenap tenaga mengerjakannya, sehingga terlalu lelah untuk produksi yang berikutnya, maka bisa dikatakan jadi sia-sia produksi kita, karena setelah habis 10 stoples, hanya cukup untuk produksi 5 stoples, akibat kekurangan tenaga. Yang harusnya jadi pilot project, malah jadi fail project alias proyek gagal.

Jadi, untuk memulai suatu usaha, perhitungan yang matang itu sangat-sangat diperlukan, seperti kita kalau mau bangun rumah, tapi kita gak kuat meneruskannya dan akhirnya terbengkalai, bukannya mendapat pujian, malah jadi bahan tertawaan.

Sebenarnya ada cara yang paling mudah untuk mulai usaha. Daripada memulai dengan produksi, mungkin untuk tahap awal, apalagi lebarannya sudah mau dekat, kita bisa coba dari berdagang dulu, artinya, kita ambil produksi orang lain, mungkin tetangga kita, lalu kita bawa ke kantor misalnya, lalu kita titip ke kantin atau langsung jual ke teman-teman.

Mungkin, kita coba dari jual 10-15 bungkus atau stoples, atau apapun itu. Setelah kita lihat pasar ada, harga cocok, dan kita rasa kita sanggup, kita coba ambil ancang-ancang untuk produksi di lebaran tahun berikutnya. Tapi ingat, selalu coba ciptakan keunikan produk kita. Misal, tadi kita pakai contoh jual kue “putih salju”, dimana produsen yang kita ambil barangnya, tidak memiliki isi, maka kita coba kue “putih salju” kita ada isi coklat cairnya, atau isi keju cairnya. Ini akan membuat produsen dimana kita ambil barang tidak merasa tersaingi, dan dagangan kita jadi bisa variatif.

Itu sedikit tips yang bisa kami bagi, dan bagi mereka yang punya tips untuk mulai usaha, bisa berbagi dengan kami di sini…