Bitcoin: Hype or Happening?

Pertama-tama disclaimer dulu :)

Saya bukan expert namun sudah cukup lama menjadi pengamat bitcoin. Jika ada pernyataan yang tidak tepat, silahkan dikoreksi.

 

Bagi yang belum mengerti, bitcoin adalah sebuah mata uang digital yang tidak diregulasi oleh pemerintah mana pun dan bisa berpindah tangan tanpa jejak (anonymous). Singkatnya, bitcoin adalah seperti cash di dunia maya.

 

Cara mendapatkannya atau teknis mengenai teknologi yang digunakan, silahkan dicari di google atau youtube. Kali ini saya hanya ingin fokus untuk menganalisa bitcoin dari segi syarat yang harus dimiliki suatu mata uang.

 

Syarat mata uang ada beberapa, namun paling utama menurut saya ada 4:

 

1. Diterima masyarakat
Saat ini bitcoin masih terbatas dimiliki oleh kaum ‘geek’. Saya pun waktu pertama mengenal bitcoin, harus membaca ulang penjelasannya beberapa kali sebelum paham. Edukasi kepada masyarakat mengenai apa itu bitcoin, bagaimana ia bekerja, cara bertransaksi, akan membutuhkan effort yang luar biasa. Coba bayangkan di Indonesia, yang punya kartu kredit saja berapa persen? Sekarang disuruh bertransaksi menggunakan bitcoin?

 

Paradox pada daya tarik bitcoin adalah bahwa ia tidak diregulasi sehingga tidak memiliki “tuan”. Menurut saya, kita semua setuju untuk menerima gaji dan bertransaksi menggunakan Rupiah adalah karena mata uang tersebut diregulasi! Kita merasa aman bahwa ada yang menjaga kondisi mata uang Rupiah. Saya tidak bilang saya setuju dengan semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait Rupiah, namun paling tidak saya bisa tidur tenang karena tahu uang saya dijamin.

 

2. Tahan lama, mudah disimpan
Bitcoin menurut saya memenuhi poin ini. Namun perlu diingat bahwa bitcoin adalah cash digital. Kita bisa simpan di laptop (dompet pribadi) atau dititipkan ke pihak ketiga (dompet digital). Artinya jika ada yang berhasil hack laptop atau tempat penitipan, karena tidak ada regulator, maka ucapkan selamat tinggal pada uang Anda. Pada saat tulisan ini dibuat, Mt. Gox, marketplace bitcoin terbesar, menyatakan kehilangan 850,000 bitcoin atau senilai $475,150,000 (kurs $559, 1 Mar 2014). Masih belum jelas apakah dihack atau masalah manajemen, namun yang pasti uang nasabah tersebut hilang.

 

3. Memiliki nilai yang stabil
Masih ingat saat Rupiah bergerak dari 10rb ke 11rb-an (10%) akhir tahun lalu? Harga elektronik bisa naik 25% dalam 1 hari. Nah, kalau Rupiah menjadi seperti ini bagaimana?
bitcoin

Dari $700 menjadi $100 dalam 15 menit. Bayangkan dalam 15 menit harga laptop komputer berubah dari Rp.10jt menjadi Rp.70jt. Mengapa bitcoin sangat volatile? Karena masih baru dan terlalu banyak spekulan. Bayangkan, mata uang masih seumur jagung, sudah banyak yang membuat platform trading forex untuk bitcoin. Sama seperti saham gorengan, bitcoin mudah untuk “dikerjain”.

 

4. Jumlah relatif terbatas
Bahasa resmi “jumlah relatif terbatas”, yang sering digunakan pemerintah, adalah “inflasi yang terkendali”. Kita selalu komplain jika inflasi besar. Inflasi 8% tahun lalu mengakibatkan harga kebutuhan naik 20-50%. Bagi yang belum tahu, inflasi adalah nilai mata uang yang terus melemah terhadap barang. Bitcoin sudah jelas menyatakan bahwa jumlah bitcoin dalam sirkulasi akan dibatasi sebanyak BTC 21,000,000 (saat ini sudah ada BTC 12 jutaan). Artinya tidak akan ada inflasi, apa pun kondisi ekonomi dunia. Bagus bukan?

 

Belum tentu. Bitcoin justru akan menghadapi kondisi kebalikan dari inflasi, yaitu deflasi. Ini terjadi jika supply < demand. Jika bitcoin jumlahnya segitu-gitu saja sedangkan mata uang lain selalu bertambah, artinya nilai bitcoin pasti akan menguat terus. Artinya, jika bitcoin berhasil menjadi mata uang pilihan dunia (cita-citanya), apa pun transaksi yang akan Anda lakukan, maka akan menjadi lebih murah jika ditunda. Daripada beli mobil hari ini, lebih murah beli besok, atau tahun depan pasti jauh lebih murah.

 

Yang terjadi, masyarakat tidak perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil. Cukup tidak pakai bitcoin hari ini. Artinya tidak perlu menabung atau meminjamkan bitcoin ke orang lain (asumsi tidak ada bank). Pada akhirnya, roda ekonomi tidak bisa berputar karena semua orang menahan bitcoin. Pada akhirnya, bitcoin harus memiliki inflasi. Lagi-lagi sebuah paradox.

 

Kesimpulan
Menurut saya, bitcoin saat ini belum bisa disebut mata uang karena nilainya masih mudah menjadi bahan spekulasi. Saat ini posisinya masih lebih mirip komoditas.

 

Bagaimana efek Mt. Gox? Jika ternyata uang yang hilang adalah akibat pencurian, maka tekanan terhadap implementasi regulasi akan lebih besar. Justru harapan terbaik menurut saya adalah bahwa Mt. Gox merupakan masalah mismanagement atau penipuan. Salah satu mata uang / komoditas tertua saja (EMAS) masih banyak penipuan kok. Saya lihat ini sebagai hal yang wajar dalam lifetime suatu produk keuangan, hanya menjadi garis koreksi (apa itu koreksi?) dalam range waktu yang panjang.

 

Apakah menurut saya bitcoin akan berhasil mencapai apa yang dijadikan cita-cita penemunya? Menurut saya mirip dengan sebuah pepatah “Aim for the moon. If you miss, you’ll at least be among the stars.” Bitcoin will be here for the foreseeable future. Tapi 3 tantangan besar yang saya sebut di atas harus bisa dilalui terlebih dahulu (nilai stabil, paradox regulasi, paradox deflasi). Apakah bisa dilalui dengan mulus? Saya sendiri cukup ragu.