Biaya Pendidikan Anak

Beberapa pekan lalu, Avian Dwiputra pernah membahas mengenai dana pendidikan anak. Kini dia akan coba menggesernya sedikit dengan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang anak. Benar, bahwa semua orang kini telah melakukan perencanaan dana terkait kebutuhan anak, seperti dana pendidikan mereka. Tapi, semua itu selalu disusun atas dasar sudut pandang orang tua, tidak mempertimbangkan keinginan anak. Lalu, apakah kemungkinan yang bisa muncul jika kita tidak mempertimbangkan sudut pandang mereka?

 

Ayah dan Bunda di manapun mereka berada, akan selalu merencanakan dana pendidikan anak dengan membayangkan sekolah idaman mereka. Para perencana keuangan pun akan dengan senang hati membantu mereka mencari informasi terkait dengan biaya sekolah di sekolah yang diinginkan. Seluruh kebutuhan mulai dari uang pangkal, uang iuran bulanan atau semesteran, hingga uang untuk kebutuhan seragam. Semua direncanakan secara mendetail. Dari sudut pandang orang tua.

 

Beberapa tahun kemudian, saat anak-anak telah masuk sekolah, semua dana sudah tersedia. Semua dana kebutuhan pendidikan telah siap, hanya masalah waktu hingga kita mengeluarkannya untuk pembayaran. Lalu, kemudian tiba-tiba pada satu hari ketika pulang dari sekolah, anak merengek minta dibelikan tablet PC atau smartphone, karena ada beberapa temannya yang membawanya ke sekolah. Inilah sudut pandang anak yang kadang luput dari rencana kita. Ah tapi kan nggak perlu dikabulkan. Kalau kita bisa mengaturnya sedemikian rupa sehingga si anak mundur, bagus. Kalau mereka tetap merengek? Apalagi jika kita termasuk yang tidak tega ketika melihat mereka menangis, maka bersiaplah.

 

Beberapa dari kita sudah memasukkan komponen biaya bulanan untuk kegiatan ekstrakurikuler anak-anak kita, tapi beberapa dari kita lupa menghitung implikasi turunannya. Misalnya, kita memasukkan komponen biaya apabila mereka masuk les piano atau futsal. Kita sudah memasukkan biaya iurannya tapi apakah kita sudah mempertimbangkan apabila anak minta dibelikan piano atau sepatu futsal lengkap dengan seragam dan berbagai aksesoris lainnya? Ah tapi kan nggak perlu dipenuhi. Andai anak-anak tidak merengek, maka bagus untuk kita. Tapi, andai mereka sampai menangis meraung-raung?

 

Dana pendidikan anak memang pada awalnya hanya sebatas kebutuhan seputar sekolah, tapi banyak kebutuhan pendukung tak terduga yang kadang malah luput dari rencana kita dan malah menjadi biaya tambahan yang menguras rekening.

 

Avian Dwiputra | @sayaAvi
COO & Senior Advisor Ardana Consulting

 

Lakukan manajemen keuangan dan investasi anda dengan mudah di http://www.ngaturduit.com