Bersikap Hemat

hemat

Istilah hemat sering kita dengar, terutama dalam dunia perbankan dan keuangan. Bahkan ada salah satu perusahaan keuangan yang menggunakan kata ini untuk nama perusahaan mereka.

Nah, dalam artikel kali ini, kita akan coba bahas, bagaimana bersikap hemat dalam kehidupan sehari-hari, mengapa ini penting terutama dalam pengelolaan keuangan?

Seperti sebuah bank, bersikap hemat penting dalam mengelola keuangan pribadi. Kalau kita perhatikan dengan cermat, bank akan dengan senang hati menerima kita kalau kita sedang menyetor dana ke mereka, padahal kalau kita lihat dari sisi bank, dengan memberikan dana kita ke bank, pada dasarnya bank sedang meminjam dana kita, maka dalam buku rekening kita akan ditulis pada posisi kredit, dana kita yang masuk ke bank, jadi seolah-olah kita mengatakan ke mereka, ini saya berikan kredit ke Anda.

Tapi, ketika kita yang mau pinjam dana ke mereka, akan ada seribu satu cara supaya dana itu keluar dengan hati-hati.

Jadi, sikap hemat ini bisa kita tiru untuk keuangan kita. Kalau, dana masuk, kita akan “permudah”, tapi ketika dana itu mau keluar, kita “persulit”. Artinya, jangan sembarangan kita keluarkan.

Dalam artikel ini kita akan bahas beberapa point supaya kita lebih berhati-hati, dan juga sedikit berpikir cepat saat ada perubahan situasi dalam keseharian kita.

1. Pangan, sandang, papan (yang penting pangan)
Sejak kecil kita sudah diajar di pelajaran sosial atau ekonomi, kalau kebutuhan dasar tiap manusia ada tiga, Sandang – Pangan – Papan, yang sering disebut kebutuhan Primer.  Lalu ada kebutuhan sekunder, kebutuhan tersier, dan kebutuhan luksuri.

Tapi, tau kah dari tiga kebutuhan primer tersebut, mana yang paling primer? Ya, pangan. Orang bisa gak punya sandang, misal “orang stres” tapi mereka masih mencari makan, jangan sampai yah kita jadi seperti itu.

Begitupun dengan papan, banyak orang kota, orang moderen, terutama pasangan baru, masih belum memiliki tempat tinggal sendiri, biasanya masih bernaung di “Pondok Mertua Indah.”

2. Kebutuhan rutin, belanja, cicilan
Karena kita sudah bisa mengenali mana yang paling penting bahkan dari kebutuhan terpenting sekalipun, maka kita sudah bisa mulai buat prioritas.

Coba kita buat daftar “Skala Prioritas”, seperti ini:

  1. Urgent (Mendesak)
  2. Important (Penting)
  3. Daily Needs (kebutuhan sehari-hari)
  4. Invest (Investasi)
  5. Emergency (darurat)

Mungkin ada yang bingung, kenapa investasi dimasukkan ke dalam kebutuhan? Yang kami maksud di sini bukan investasi di produk-produk investasi, karena belum semua menganggap itu sebagai kebutuhan. Tapi, yang kami maksud investasi di sini adalah barang-barang kebutuhan keseharian kita yang bersifat jangka panjang, misal, piring, gelas, sendok, dll. Jadi, kita buat saja jangka waktunya, kalau barang yang kita beli adalah yang habis dalam waktu paling lambat 1 bulan, misal makanan-minuman, bahan-bahan makanan, maka kita anggap sebagai kebutuhan sehari-hari (Daily needs) tapi kalau itu habis lebih dari 1 bulan, misal, piring, tidak akan habis atau rusak dalam waktu 1 bulan, kecuali kalau kita lagi marah-marah, lalu piring melayang, aduh…amit-amit…jangan sampai yah…J, maka barang yang tidak habis atau rusak dalam waktu 1 bulan kita kategorikan sebagai kebutuhan investasi.

Mengapa pengkategorian ini penting? Karena ini menyangkut pengelolaan dna kita, baik dana tunai (baik yang di tangan ataupun yang di dompet elektronik), dan juga dana kredit kita.

Dari 5 kategori di atas, yang perputarannya paling cepat adalah yang no. 3 (kebutuhan sehari-hari /daily needs), maka ketersediaan dana tunai dan kredit harus selalu ada, sedangkan untuk investasi, kita bisa andalkan kartu kredit, karena umumnya harga-harganya lebih mahal dari yang sehari-hari, dank arena bersifat jangka panjang, kita bisa beli secara cicil.

Untuk, yang no 1 & 2, bisa kita gabung dengan dana keseharian atau kita pisah, tergantung kebutuhannya. Apa saja yang masuk kategori urgent & important? Kami analogikan seperti ini:

Kita sedang dalam perjalanan mau perpanjang STNK mobil, karena hari ini sudah terakhir, itu important (penting), tapi ditengah jalan ternyata ban mobil kita bocor, terpaksa kita harus mengganti ban dulu, baru bisa melanjutkan perjalan, itu namanya urgent (mendesak).

Memang dalam kehidupan sehari-hari kita bisa jadi sering mengalami hal-hal yang important dan urgent, maka cara kita meminimalisirnya adalah dengan pengelolaan dana dan pengelolaan waktu.

Lalu, bagaimana dengan dana emergency (darurat). Ini harus kita pisahkan sendiri, berbeda dengan dana yang bersifat important dan urgent tadi yang mungkin masih bisa kita campur dengan dana keseharian, sedangkan dana emergency tidak boleh kita campur, karena, untuk yang important dan urgent, biasanya karena kelemahan kita dalam mengelola keuangan dan waktu (keteledoran kita/human error), sedangkan keadaan darurat sering karena sesuatu yang diluar kuasa kita. Misal, anggota keluarga yang tiba-tiba sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, mobil hilang, dll.

Dengan membiasakan diri mengelola keuangan pribadi, tertib admin kalau menggunakan istilah perbankan, dan membiasakan diri mengelola waktu, maka diharapkan kita bisa lebih bersikap hemat atas dana kita. Dan kalau kita terbiasa, umumnya, dunia perbankan akan lebih mempercayai kita saat kita butuh kredit dari mereka.

Bagi mereka yang tertarik sharing pengelolaan dana pribadi, silahkan share ke sini…

Tags: