Beranalogi Reksadana dan Saham

Dalam dunia pasar modal, ada banyak sekali singkatan, istilah atau jargon yang cukup membingungkan investor pemula. Di sini saya akan mencoba untuk menjelaskan mengenai Reksadana dan Saham dalam analogi transportasi.

Bayangkan kita sedang berada di Blok M dan ingin menuju ke Kuningan. Sama dengan keuangan kita, ada titik awal dan tujuan akhir. Dalam menempuh perjalanan dari titik A ke titik B, kita bisa lakukan dengan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan Bis Kota. Bis Kota ini seperti Reksadana. Ada supir (Manajer Investasi / MI) yang bertujuan untuk mengantarkan banyak penumpang dari titik A ke titik B. Dengan membayar tarif yang relatif murah, kita bisa sampai ke Kuningan.

Bis pun ada beragam jenisnya. Mirip dengan produk reksadana. Ada TransJakarta yang jalurnya sudah jelas, hanya di jalan utama. Ada juga Metro Mini dan Kopaja yang mungkin bisa lebih cepat sampai, tapi kadang nyetirnya ugal-ugalan, atau malah ngetem. Mungkin juga kita bisa pakai mikrolet (iya, saya tahu tidak ada mikrolet Blok M – Kuningan, ini hanya untuk contoh saja :D ). Ukurannya lebih kecil dari bis dan bisa masuk jalan tikus jika jalan utama macet.

Sekarang tambahkan constraint waktu. Kita semua mau ke Kuningan tapi gak mau kalau perjalanan 4 jam kan..? Atau mungkin kita ada meeting sebentar lagi. Coba kita naik TransJakarta. Dari Blok M, ke Dukuh Atas, lalu ganti bis ke arah Kuningan. Apakah bisa mencapai meeting on time? Yaah.. Mungkin saja.. Sekarang coba kita dari Blok M naik Kopaja 66 yang langsung ke Kuningan. Apakah bisa sampai tepat waktu? Jawabannya, tergantung! Tergantung jam berapa berangkat, apakah jalanan macet, supirnya ngetem atau tidak, dll. Artinya, dalam menentukan bis mana yang akan kita naiki, harus pertimbangkan constraint waktu dan kondisi jalanan. Bisa juga Anda naik TransJakarta sampai flyover Saharjo (Casablanca) lalu naik mikrolet sampai Kuningan. Sama juga dengan Reksadana. Jika memang punya banyak waktu, pilih yang aman-aman saja. Namun jika ada batasan waktu harus sampai, berarti ada pertimbangan-pertimbangan lainnya. Dan jangan lupa untuk turun kalau sudah sampai tujuan!

Nah bagaimana jika anda lebih memilih bawa mobil sendiri? Mungkin Saham adalah pilihannya. Anda bebas menentukan jalan, apakah mau lewat jalan protokol, macet-macetan di Sudirman, atau lewat belakang via Senopati – Tendean? Lagi-lagi, belum tentu jalan non-protokol bisa sampai lebih cepat lho.. Apalagi kalau musim hujan, Tendean dijamin banjir! Anda bisa nyetir lempeng saja, atau mau zig-zag. Saham pun begitu.. Mau aman beli saham-saham kapitalisasi besar dan likuid, atau mencoba main second liner. Dalam menyetir mobil sendiri, tentu ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Namun kepatuhan sepenuhnya tergantung anda! Dalam Saham istilahnya disiplin dan risk management. Yaah… Kalau lagi di lampu merah dan tandanya berhenti, silahkan saja kalau mau tetap jalan. Tapi ditilang polisi atau ditabrak kendaraan lain menjadi risikonya.

Jadi… Anda lebih pilih naik bis atau nyetir mobil?