BBM Naik, Lalu…?

Hari Senin lalu presiden Joko Widodo mengumumkan pengalihan subsidi BBM dari sektor konsumtif ke sektor produktif, sehingga harga BBM naik Rp 2.000. Solar menjadi 7.500 dan premium 8.500. Dengan naiknya harga BBM tentu membuat kita harus menyesuaikan diri dengan naiknya harga barang dan jasa.

Pemerintah sudah menyiapkan kartu sakti untuk antisipasi dampak pengalihan subsidi BBM kepada masyarakat prasejahtera yaitu dengan adanya Kartu Perlindungan Sosial yang dikenal “kartu sakti” Kartu Keluarga Sejahtera (KSS).

Dengan ada Kartu Keluarga Sejahtera (KSS) maka per keluarga akan mendapatkan bantuan senilai Rp400 ribu per dua bulan, Penerima harus antre ke kantor pos, PT Pos yang menjadwalkannya. Bantuan tersebut bias diambil mulai 18 November sampai 2 Desember.

Dengan kenaikan BBM sebenarnya yang terkena imbas bukanlah kelas bawah atau keluarga pra-sejahtera namun kelas menengah. Kelas menengah yang tidak tergolong miskin sehingga tidak mendapatkan bantuan pemerintah, namun juga tidak kaya. Kelas menengah tentu harus survive dalam menghadapinya.

 

Ada 2 hal yang bisa dilakukan dalam menghadapinya:

  1. Pertama, adalah berhemat, mengurangi pengeluaran yang sifatnya tidak terlalu penting seperti untuk gaya hidup misalnya berbelanja pakaian branded, makan-makan di luar rumah dan hangout bersama teman-teman.
  2. Kedua, adalah menambah pendapatan. Mari berpikir cara bagaimana menambah pendapatan, miisalnya dengan mencari pekerjaan tambahan sehingga dapat menambah pemasukan atau terpikir untuk membuat usaha.

Berhemat adalah solusi jangka pendek, solusi jangka panjangnya menambah pendapatan.

Baca juga: Tips Langkah Menuju Kaya: Anggaran

Biaya hidup murah, namun gaya hidup yang membuat mahal. Makan adalah kebutuhan namun makan di restoran mewah bukanlah kebutuhan namun gaya hidup. Mari, hitung kembali pengeluaran bulanan setelah kenaikan harga dan lihat budget apa saja yang bisa dikurangi!

Baca juga: Anggaran yang sering terlewat