Apakah Jakarta Bisa Bebas Banjir?

Beberapa hari lalu, saat melihat hujan tak berhenti semenjak pukul 12 malam di area pinggiran Jakarta, saya berkata dalam hati, “Wah, Jakarta bisa bajir nih….” Dan keesokan harinya benar saja, banjir terjadi di beberapa tempat di Jakarta.

Saya pun mulai bertanya dalam diri saya, “Apakah Jakarta bisa bebas banjir?” Apa pendapat Anda?

Sebelum berbicara mengenai Jakarta, saya akan mencoba menjelaskan kerangka besarnya dulu. Pada akhir bulan Januari, saya mengadakan seminar dengan tema Retire Young, Healthy and Rich. Di seminar itu, saya menceritakan seorang aktivis dan jurnalis yang concerned terhadap perubahan iklim bernama Bill McKibben. Bill sering membahas kerusakan alam, dan pembicaraannya selalu berujung pada akhir dunia, yang sebenarnya memang merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.

Namun dalam seminarnya pada tahun 2012, di depan 1.000 peserta di University of California Los Angeles, dengan tema “Do the Math”, ia menjelaskan bahwa manusia sebagai pribadi yang hidup di dunia sebenarnya dapat mengendalikan kerusakan alam. Menurut Bill, perubahan iklim adalah matematika sederhana, di mana hasil perhitungan bagi akhir dunia akan menjadi semakin dekat, jika dunia dan kita tidak mengambil tindakan.

Sama dengan Bill, saya juga mulai melakukan riset kecil dengan kalkulasi sederhana, untuk melihat potensi banjir di Jakarta. Matematikanya tidak rumit, hanya sebatas berapa banyak air dari curah hujan yang dapat tertampung. Di mana air hujan tertampung? Bagi Anda yang telah lulus Sekolah Dasar hingga Sekolah Menegah Pertama, tentunya mengenal istilah daerah resapan air dan ruang hijau.

Berdasarkan browsing-browsing kecil di mesin pencari, saya mendapati bahwa daerah resapan air dan ruang terbuka hijau di Jakarta saat ini berkisar kurang dari 10%. Sedangkan resapan air yang diperlukan oleh setiap lokasi—di taraf aman—seharusnya 30% total. Artinya, bila kita menggunakan acuan teori 30% tersebut, maka Jakarta mengalami defisit daerah resapan air sebanyak 20%, betul?

Lalu saya coba melakukan browsing-browsing kecil mengenai berapa banyak titik banjir di Jakarta, beserta luasannya. Oh ya, sebagai informasi, luas kota Jakarta adalah 66.152 hektare. Karena penyebaran banjir tahun 2015 baru terjadi, saya hanya berhasil menemukan titik lokasinya saja, dan tidak berhasil menemukan luasannya. Meski titik bajir sudah berkurang 50% pada tahun 2015, tapi faktanya adalah tetap terjadi banjir.

Saya lalu menemukan data milik Greenpeace Indonesia, yang mengemukakan bahwa pada tahun 2014, daerah yang terkena banjir yaitu 17,4% dari total wilayah Jakarta. Definisi daerah banjir adalah, daerah tersebut seharusnya tidak digenangi air, dan hanya menjadi tempat penampungan air atau resapan air sementara akibat curah hujan yang tinggi.

Andaikan data resapan air di Jakarta yang besarnya 10% tersebut adalah benar—yang seharusnya adalah benar karena saya mendapatkannya dari wawancara dengan Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB—maka dengan gaya “Do The Math” ala Bill McKibben, angka teoretis 30% daerah resapan air adalah angka yang masih terbukti benar. Silakan saja Anda jumlahkan 10% + 17,4%, nilainya adalah 27,4%, artinya ada toleransi 2,6%.

Beberapa tahun lalu, saya sempat pergi ke luar negeri, tepatnya Hong Kong. Pada masa kunjungan saya waktu itu, suatu siang tiba-tiba terjadi hujan yang amat besar, dengan durasi yang cukup lama. Jalanan seketika menjadi banjir dan terjadi kemacetan. Banjirnya lumayan tinggi karena lebih dari semata kaki, dan di jalanan sudah terdengar sirine mobil. Waktu itu saya merasa seperti sedang berada dalam sebuah skenario film layar lebar, karena selain hujan masih terus turun, awan begitu mendung dan langit terus-menerus bergemuruh.

Akhirnya, saya memilih untuk duduk di sebuah kedai kopi bersama keluarga saya. Waktu itu, banyak warga Hong Kong yang seakan kelihatan “norak”. Ada yang sampai foto-foto dan melakukan dokumentasi video, dan ketika saya tanyakan ke pemilik kedai kopi apakah hal ini pernah terjadi, dia mengatakan bahwa ini adalah kali pertama hal ini terjadi. Pantas saja cukup heboh, dan saya pun bercanda dengan keluarga saya, “Coba mereka ke Jakarta, ini sudah agenda tahunan, jadi nggak terlalu norak.”

Hujan pun reda, dan dalam waktu hitungan menit, air segera kering dari jalan-jalan. Setelah itu, gantian saya yang mengalami momen WOW, karena dengan mata kepala sendiri saya melihat kesigapan aparat mengaktifkan pompa-pompa di jalanan. Mereka terlihat sangat terlatih menanggulangi peristiwa banjir ini, seolah-olah mereka sudah mengalaminya setiap periode hujan deras. Padahal menurut pemilik kedai kopi tadi, hal ini baru sekali terjadi. Dan satu lagi, air banjirnya begitu dingin dan begitu jernih.

Ketika hujan yang turun begitu besar, maka hal ini sama seperti Anda menuang air ke dalam botol yang lubang botolnya sedemikian kecil, sehingga air akan tumpah bila Anda menuang dengan begitu cepat. Namun dengan daerah penyerapan air yang cukup dan sistem pembuangan yang tepat, semua itu dapat segera diatasi.

Maka kembali ke ibu kota kita tercinta. Bila saat ini pemprov sedang sekuat tenaga memperbaiki saluran air dan juga kembali mempersiapkan penampungan air yang begitu banyak, bagaimana dengan daerah resapan airnya? Angka 10% yang seharusnya 30% itu loh? Yang 20%-nya lagi ke mana ya? Bila yang 20%-nya itu belum terjawab, maka ya masalah bajir di Jakarta saya kira akan tetap terus terjadi. Maaf, tepatnya akan terjadi banjir berkepanjangan, karena banjir itu sebuah peristiwa alam akibat curah hujan yang sedemikian besarnya.

Saya juga punya “Do the Math” lainnya untuk menjawab pertanyaan ke mana 20% tadi. Secara natural, air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah, meski faktanya permukaan air laut terus naik. Itu bukan saja menjadi PR (Pekerjaan Rumah) Jakarta, tapi juga Indonesia, dan bahkan dunia yang harus merespons kepada Global Warming. Mari kita perhatikan. Area yang digenangi air paling parah, jangan-jangan area tersebut sebenarnya adalah “20%” yang seharusnya menjadi daerah resapan air.

Memang perlu waktu untuk menyadari manakah investasi yang cerdas dan yang tidak cerdas. Untuk setiap kita yang diuji, penyesalan memang tidak pernah datang di awal tapi di akhir. Namun, setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Oleh karena itu, saya bersama komunitas-komunitas yang sadar akan pentingnya kesehatan dan juga kekayaan sering mengadakan acara untuk memberikan edukasi yang mengajarkan bahwa sehat dan kaya adalah dua bagian yang merupakan satu kesatuan, seperti acara yang akan saya adakan di Jakarta pada tanggal 14 Maret 2015 mendatang, bertema Rich & Healthy Seminar – Family Investment Guide.

Semoga Jakarta menjadi Ibu Kota Negara yang semakin baik.

Salam investasi untuk Indonesia.

 

Ryan Filbert Wijaya, S.sn, ME.
Investment advisor, praktisi investasi dan inspirator investasi
@ryanfilbert
www.ryanfilbert.com
www.facebook.com/ryanfilbertdotcom