Apa itu Reksadana?

reksadana-terproteksi

Buat yang bekerja dengan gaji pas-pas an mungkin merasa bingung dengan investasi apa yang cocok untuk dibeli. Padahal kalau mau mengikuti saran para ahli keuangan setidaknya kita sisihkan sekitar 10-20% untuk investasi kita. Atau, mungkin ada yang belum pernah berinvestasi, merasa kurang pengalaman dan kurang ilmu dalam berinvestasi, sehingga takut untuk memulai. Bahkan ada yang berpikir, bagaimana kalau dana yang kita tempatkan hilang semua? Maka, melalui artikel ini, diharapkan semakin banyak yang tertarik untuk berinvestasi.

Jika kita bingung dengan produk investasi apa yang cocok buat kita, atau kalau kita masih awam dalam berinvestasi, maka tidak ada salahnya kita membeli produk investasi reksadana.

Apa sih reksadana itu? Gampangnya, reksadana adalah produk investasi yang dikeluarkan oleh manajer investasi  untuk dikelola, dan dana yang dikelola tidak harus dari satu orang saja, tapi dari banyak orang, sehingga invetasi awal kita, tidak perlu besar-besar.

Reksadana sekarang ini ada yang bisa dimulai dengan hanya Rp 100.000 saja per bulannya. Buat kita yang berpenghasilan pas-pasan, reksadana cocok menjadi sarana kita berinvestasi, karena tidak besar, dan kita bisa rutin membelinya, seperti kita menabung. Hanya, kalau menabung kita hanya dapat bunga paling besar 7% an per tahun artinya, 7% dikalikan total dana kita dalam setahun. Misal, kalau kita rutin tabung 100.000 per bulan berarti setahun ada Rp 1.200.000, dan ditambah bunga 7% x Rp 1200.000 = Rp 84.000 per tahun atau Rp 7000 per bulan, sedangkan umumnya biaya admin bank per bulannya Rp 7000 bahkan ada yang hingga Rp 10.000 per bulan, dengan  kata lain, bunga yang kita peroleh hanya cukup untuk bayar biaya admin atau bahkan masih berutang biaya admin tiap bulannya.

Sedangkan kalau kita masuk reksadana sekarang apalagi saat IHSG sedang berada di titik rendah, maka ketika IHSG suatu saat naik kembali 20-50% setahun, maka reksadana kita pun akan terkerek hingga 20-50% dalam setahun, karena reksadana sangat erat kaitannya dengan pergerakan IHSG. Jadi, kalau kita masuk dana Rp 1.200.000 tahun ini, dan ternyata IHSG katakanlah naik 30%, maka kita dapat bunga bisa hingga 30% dalam tahun itu yaitu sebesar Rp 360.000 atau Rp 30.000 per bulannya, dan ini jelas sudah lebih tinggi dari biaya admin bank kita.

Perhitungan di atas hanyalah sebuah gambaran kasar bila kita investasi reksadana, untuk keterangan lebih detilnya dapat kita tanyakan langsung pada manajer investasi kita, itu bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari perhitungan di atas, tergantung dari produk reksadana apa yang kita beli.

Yang penting untuk kita ingat, kalau kita invest di reksadana, jangan cuma tergiur dengan besarnya hasil yang kita dapatkan, tapi juga sebagai sarana kita mengelola anggaran pendapatan kita. Jadi, jangan karena melihat dana kita yang terus bertambah, kita jadi terburu-buru menariknya, sehingga investasi kita jadi tidak optimal.

Lalu, pertanyaan lain yang sering dikhawatirkan banyak orang adalah, bagaimana kalau dana kita habis tak bersisa? Coba, kita pikirkan sejenak, andai kita gunakan dana investasi kita tersebut, misal Rp 1.200.000 kita gunakan untuk berdagang, apakah ini memberikan jaminan kalau dana kita tidak habis sia-sia?

Bagaimana, kalau dagangan kita ternyata tidak laku, karena lokasi tidak strategis, bukankah ini membuat dana kita habis sia-sia? Apalagi kalau kita sampai meminjam dana untuk dagangan kita.

Begitupun dengan investasi, memang tidak ada yang bisa menjamin 100% dana kita akan aman, tapi setidaknya, dana kita kalau dikelola dengan baik oleh ahlinya, bisa mengurangi kerugian.

Masih bingung mau investasi apa? Atau sudah habis dana investasi kita? Silahkan share ke sini untuk berbagi pengalaman…