Amankah Baloon Payment?

BMW

Apakah Anda suka mengagumi mobil mewah yang sering dipamerkan di mall? Cukup mengagumi saja karena jika dihitung-hitung, mungkin sebagian besar dari kita akan berpikir berkali-kali untuk berkomitmen memiliki mobil tersebut. Jangankan mau beli secara tunai, mau kredit (KKB) aja masih terbayang DP dan cicilan yang lama.

Namun belakangan ini tampaknya sedang tren promosi “hanya Rp. 4jt/bln bisa bawa pulang mobil XYZ”. Di mall maupun iklan online sering ditawarkan. Sedangkan jika kita hitung secara matematika, berapa tahun bisa lunas membeli mobil seharga 600jt? Jangan-jangan mobilnya sudah rusak duluan…

Namun ternyata jika dipelajari, ternyata program tersebut tidak berbeda jauh dengan kredit kendaraan biasa, hanya jumlah cicilannya lebih kecil dan pendek masanya. Jika biasanya skema cicilan adalah DP + cicilan, maka cara alternatif ini membaginya menjadi 3 bagian; DP + cicilan + pelunasan. Yang tadinya cicilan bisa memakan 5 tahun, sekarang cukup 3 tahun dan pembayaran terakhir adalah pelunasan. Ya, inilah yang dinamakan Baloon Payment. Mirip seperti bentuk balon yang depannya terikat pada seutas benang, jika kita telusuri benang ke belakang, maka akan menemukan balon besar, yaitu pembayaran besar di belakangnya. Dor! Hehehe…

Konsep pembayaran ini mungkin terlihat menarik, terutama bagi kita yang SELALU optimis terhadap kondisi keuangan masa depan, namun bukan berarti tanpa risiko lho…

Mari kita analisa Baloon Payment dari sisi seorang karyawan maupun pengusaha

1 2 3 4