Apa yang paling banyak dicari sebagian besar peserta seminar dan pelatihan tentang investasi dan perencanaan keuangan hampir tidak tidak ada bedanya dengan wawasan yang dicari masyarakat yang mengikuti training motivasi dan pengembangan diri. Dari waktu ke waktu yang dibutuhkan peserta adalah sebuah penguatan dan charging keyakinan. Banyak wawasan perencanaan keuangan sesungguhnya adalah pengulangan bahkan telah jadi common knowledge. Menjalankannya secara konsisten adalah persoalan lain lagi.
Menarik keluar daftar belanjaan konsumtif dari tabel NEEDS (kebutuhan) dan memasukkannya ke keranjang WANTS (keinginan) yang boleh kita tengok untuk direalisasikan pada urutan kesekian – perlu kesungguhan dan tembok pertahanan hati yang terlindungi fokus jangka panjang yang bernama VISI. Menjaga NEEDS tetap NEEDS dan WANTS tetaplah WANTS menuntut disiplin dan komitmen seisi keluarga.
Memprioritaskan shadaqah sebagai gaya hidup keluarga juga perlu disiplin. Menjadikan hutang (apalagi konsumtif) sebagai pilihan terakhir menghidupi ekonomi keluarga juga adalah ‘shared values’ yang harus disosialisasikan nahkoda keuangan keluarga kepada para membernya.
Sebagaimana sering saya tulis dan sampaikan di berbagai kesempatan pelatihan serta seminar, mengelola keuangan keluarga adalah 20% tentang pengetahuan, wawasan dan metodologi atau cara. Komponen terbesar sisanya adalah tentang penyatu arah yaitu visi, prioritas dan disiplin dalam menjalankannya. Di tingkat perusahaan maupun rumah tangga, plan yang matang dan monitor ketat atas eksekusinya, termasuk audit untuk menjaga kebocoran, lumat sekejap karena godaan yang menyentuh moral.
Akhir pekan lalu, saya berbagi dengan lebih dari 200 Buruh Migran Indonesia di Hongkong, dengan berbagai warna semangat, antusiasme, juga beragam kehebohan dan ekspresi. Potret mini polarisasi masyarakat Indonesia tampak disana. Warna-warni kombinasi antara kebuntuan dan jalan keluar. Optimisme kehidupan yang lebih baik dengan belitan permasalahan klasik migran. Juga kontras antara kutub sekelompok migran yang mengisi waktu dengan aktivitas positif berbenturan dengan yang menjalaninya tanpa arah, bahkan terseret arus budaya lokal yang bisa sangat membius.
Di tengah-tengah peserta, surprisingly, beberapa sudah aktif mendirikan dan melakukan kajian ‘sadar investasi’. Tak sampai satu persen peserta telah menjalankan investasi aneka rupa, mulai di sektor keuangan hingga rumah makan, properti, sawah-ladang produktif, emas dan peternakan, baik di kampung halamannya maupun di perantauan. Lihatlah, bahkan mereka tak perlu skill khusus untuk berinvestasi, tapi sudah dari mula membina kesejahteraan keluarganya dengan peternakan ayam dan kebun sengon laut yang nilainya Milyaran rupiah dalam lima tahun kedepan.
Di sisi lain peserta, saya juga menemukan migran yang terlilit hutang, didzalimi majikan dan agen penyalur, ditipu kawan atau yang income-nya lenyap begitu saja karena tersedot habis oleh tuntutan gaya hidup.
Investasi adalah soal mindset. Dan bantuan serta uluran tangan tak hanya diperlukan untuk mereka. Banyak pekerja dan profesional lokal di kota-kota besar di Indonesia yang manajemen keuangan keluarganya hancur-hancuran. Menuruti nafsu hidup mewah dengan ‘dibantu’ hutang. Atau berinvestasi membabi-buta di money-game virtual dengan bayangan hasil besar tanpa menghiraukan rambu-rambu syar’i.
Bagi siapapun mereka, diluar skill kelola keuangan yang harus dikuasai (misal : memastikan cashflow positif dengan rebalancing income dan pengeluaran) saya hanya bisa mengulang-ulang 3 bisnis terbaik yang layak dijalankan : (1) pastikan zakat tertunaikan ditambah infaq-shadaqah yang terbaik, lalu (2) berbisnis riil dengan memproduksi barang atau jasa, berdagang dan berniaga, kemudian (3) memproteksi asetnya dengan emas.
Kembali ke kisah berbagi dengan teman-teman migran yang akan berinvestasi emas, saya ajak mereka mulai terarah untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Mempersiapkan kehidupan lebih baik untuk keluarga dan sanak saudara yang mereka tinggalkan, juga bagi diri mereka kelak kemudian. Memproteksi hasil jerih payah mereka dengan aset hakiki.
Perencanaan keuangan jangka panjang berbasis emas saat ini dipermudah salah satunya dengan kepemilikan emas KLM yang dilayani oleh BRI Syariah. Tempo, objek kepemilikan emas dan jumlah cicilan per bulan yang fleksibel membantu kita merencanakan masa depan dengan lebih pasti sekaligus tak memberatkan keuangan bulanan.
Wallahua’lam
