Beberapa skema investasi emas menawarkan cara-cara seperti transaksi berjangka, kepemilikan saham tambang emas yang secara fisik tak pernah kita ketahui letaknya dimana, member get member investasi derivatif dengan ‘satuan’ emas, juga gadai-bertingkat-berlanjut dan skema gadai lainnya yang high-risk, sebagai cara yang disebut “memproduktifkan emas”.
Disisi lain, kita tahu, membiarkan emas tersimpan pasif dalam rangka proteksi aset dalam jangka menengah hingga panjang, sah-sah saja. Sebagaimana hal yang sama boleh kita lakukan dengan cara memiliki aset seperti tanah, rumah, apartemen dan ruko. Dari aset pasif seperti itu investor mendapatkan kenaikan nilai aset meski tak dapatkan cash.
Lalu bagaimana cara memproduktifkan emas, dalam arti menghasilkan cashflow, yang hakiki? Bagi saya hanya ada dua cara :
1. Menjadikan emas sebagai dana cadangan atau sumber pembiayaan dan backup aset dari bisnis yang kita jalankan
2. Memperdagangkan emas, atau memperjual-belikannya.
Dengan cara pertama, kita bisa dapatkan penopang bisnis karena cadangan aset emas naik nilainya sekitar 25% per tahun. Emas juga mempertahankan, bahkan melipatgandakan margin usaha yang kita simpan. Katakanlah bisnis berkembang omzetnya sebesar 50% dalam setahun, ditambah aset emas yang naik nilainya 25%, maka total nilai usaha naik sebesar 75%. Selain itu emas juga sangat liquid ketika bisnis akan dikembangkan dan kita perlu suntikan modal. Tidak ada aset lainnya yang terus bertumbuh dan sangat liquid seperti halnya emas, dengan cara dijual atau digadai. Bisnis + emas adalah sinergi paling ideal. Bisnis barupun, yang dibangun menggunakan dana dari gadai atau jual emas, telah membuat emas itu bermakna produktif dalam arti sebenarnya.
Sementara cara kedua menjadikan emas sebagai objek bisnis. Memperjualbelikan emas dalam bentuk batangan, koin maupun perhiasan. Margin 1-2% per transaksi jika terakumulasi selama 15x transaksi saja selama sebulan, maka emas tersebut telah menghasilkan margin/ cash 15%-30% dari total omzet/ transaksi.
Dan banyak pemudah bagi investor emas pasif saat ini untuk memulai bisnis emasnya sendiri, melangkah dari mendapatkan kenaikan nilai kapital 20-25% per tahun, menjadi dapatkan capital gain yang sama ditambah 25-30% cashflow dari nilai transaksi per bulan. Diantara pemudah itu adalah :
- Simpanan emas yang telah dimiliki sekarang bisa menjadi display sekaligus buffer/ stok transaksi
- Digital media sebaga sarana promosi membuka pasar sangat luas tanpa batas dengan biaya nyaris nol
- Nyaris tiada lagi pembatasan teritori pasar karena pengiriman fisik emas bisa menjangkau wilayah manapun
- Kesadaran masyarakat yang begitu besar untuk berinvestasi emas adalah potensi pasar yang menanti digarap
Saya dan 3 pengajar lain yang expert karena telah menjalani bidangnya bertahun-tahun akan berbagi, memandu dan berdiskusi dalam Training & Coaching Bisnis Emas (TCBE) batch 3 yang berisi materi :
- Fundamental bisnis emas
- Cara mengenali dan pengetesan keaslian fisik emas
- Memanfaatkan digitalpromo untuk mengembangkan pasar
- Menjalankan dan mengelola gold store
- Menangani kendala modal dengan pembiayaan bank syariah
Tapi bisnis tetaplah bisnis. Menyisakan hasil besar bersamaan sebuah tantangan. Mental bisnis yang fokus, persistensi/ disiplin, ulet, lincah membuka pasar, membangun jaringan dan kreativitas program serta membangun trust adalah tantangannya. Realita ini dan tips lapangan untuk menanganinya juga dibahas selama training dan forum-forum pasca training.
Training & Coaching ini memaparkan potensi hasil sekaligus menjelaskan tantangan dan kenyataan sebuah bisnis emas. Peserta, sejak batch 1 tak pernah banyak karena memang dibatasi agar diskusi bisa intensif dan bisa one-on-one.
Apply untuk ikut serta di batch ke-3 pada 10 Desember di Hotel Harris Tebet – Jakarta (tersedia beberapa seat lagi), atau penyelenggaraan customized diluar Jakarta dengan menghubungi Goldenland Edutrain (PT Media Total Performa) di nomor HP +628567808979. Sampai jumpa.