Pernah punya pengalaman berkebun? Atau menanam pohon?
Dulu saya masih ingat saat pindah ke Dumai, kami sekeluarga pindah karena Papa pindah tugas. Rumah di komplek yang dikhususkan itu besar-besar dengan halaman yang sangat luas (apalagi saya waktu itu masih kelas 4 SD).
Waktu kami datang kesana, semua tampak panas dan gersang, seperti tidak ada kehidupan. Papa saya seorang pelaut yang saat itu sedang cuti untuk beberapa bulan. Dan saya masih ingat sekali, beliau mulai mengerjakan halaman rumah kami, ia mulai membuat got-got kecil disekeliling rumah kami, kemudian ia mulai membuat lubang-lubang dan menggemburkan tanah-tanahnya, ia juga membeli bibit-bibit tanaman dan pupuk. Kami anak-anaknya terutama saya dan abang saya diajak turut serta dalam kegiatan itu, cukup melelahkan, hingga kadang kami hanya bertahan sebentar, beristirahat, bermain, lalu membantu lagi. Hal ini kami lakukan rutin setiap sore, sehingga lama-kelamaan menjadi suatu kegiatan yang kami anggap seru dan menjadi bagian dari hidup kami hari-hari.
Mama bertugas menyiapkan kue-kue dan minuman, sehingga saat kami sudah selesai bekerja, kami bisa duduk diteras dan melihat apa yang telah kami kerjakan. Awalnya saya tidak terlalu mengerti dengan apa yang Papa saya rencanakan, tapi ketika pekerjaan mulai jadi saya mulai bisa melihat, got-got yang ada disekeliling rumah kami adalah yang digunakan untuk menjadi jalur air dan setiap lubang-lubang pohon akan tersambung ke sisi got, sehingga untuk mengairi kami cukup mulai menyalakan keran dan membiarkan airnya mengalir ke setiap lubang-lubang tanaman yang ada.
Saya ada di Dumai sampai dengan SMP Kelas 3, dan selama itu (sekitar 5 tahun) kami sudah menikmati hasil dari pohon-pohon yang ditanam Papa dan dirawat oleh kami sekeluarga. Ada pohon pepaya, mangga, jambu air, jambu biji, jambu bol, semangka, rambutan, singkong, cabe, tomat jadi berasa taman buah dan sayuran deh, haha.. :D
Pengalaman ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa sesuatu yang ditanam, dirawat rutin, diberi pupuk, akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buahnya pada waktunya masing-masing, ada yang hanya butuh beberapa bulan, ada yang perlu beberapa tahun.
Pengalaman ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa sesuatu yang ditanam, dirawat rutin, diberi pupuk, akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buahnya pada waktunya masing-masing, ada yang hanya butuh beberapa bulan, ada yang perlu beberapa tahun.
Saya belajar prinsip yang sama dalam berinvestasi di reksadana :
- Perlu dimulai (ditanam benih)
- Diinvest rutin (diberi air/pupuk rutin)
- Direview berkala (dibersihkan dan dicek kesehatannya), sampai akhirnya siap
- Dicairkan (dinikmati buahnya) sesuai waktunya. (Baca My Reksadana Part 1&2)
Pada saat meninggalkan rumah di Dumai, karena akan melanjutkan SMA di Jakarta ada perasaan kehilangan, melihat hijau dan luasnya halaman kami (di Jakarta cuma kecil banget, hihi..)
Kita tidak akan bisa menikmati buahnya, jika tidak menanam benihnya, melewati prosesnya. Setiap buah punya keunikan dan waktu masing-masing untuk menjadi matang, jangan dipetik sebelum waktunya. Dan perlu diingat ada pohon yang berbuah sedikit, dan ada pohon yang berbuah banyak, tapi ada pohon yang gagal berbuah. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman hidup kita.
Selamat menanam benih investasi, jalani prosesnya dengan benar, biarkan ia tumbuh dan nikmati hasilnya pada waktunya!
Image taken from here

Dalam beberapa bulan terakhir baru saya “ngeh” mengenai produk reksadana. Saya baca artikel2 sampai mengikuti seminar dan diskusi dengan financial planner.
Tapi kok hasil kesimpulan saya seperti ini ya :
1. Dalam membuat rencana2, financial planner selalu menggunakan target return yang kemudian digunakan dalam memilih kendaraan investasi.
Masalahnya, kami orang awam tidak bisa tahu dari fact sheet apakah produk RD tsb akan memberikan perkiraan target return berapa persen.
Hal ini terlihat dari hasil diskusi saya dengan FP. Sebagai contoh saya pernah memilih suatu produk, setelah FP lihat ternyata produk tsb hanya akan memberikan target return dibawah 15% (target yang diinginkan)
2. Tanpa pengetahuan yang memadai bagaimana melihat fact sheet, maka ada kemungkinan kita malah akan mengalami kerugian.
3. Jika dikemudian hari produk RD memberikan imbal hasil negatif, bagaimana kita orang awam mengetahui kapan harus menjual dan kapan kita harus mempertahankan investasi kita.
4. Beberapa orang mengatakan bahwa untuk bermain reksadana terutama RD Saham, hasilnya tidak harus selalu dipantau. Tunggu hasilnya di tahun ke 10 atau sesuai dengan rencana penempatan awal kita. Tapi kalau misalnya turun2 terus lalu bagaimana ?
Alhasil sepertinya ragu untuk memulai “berkebun”.
Dalam membuat perencanaan Financial Planner memang akan menggunakan variable expected return / return yang diharapkan yang akan dijadikan dasar perhitungan agar dapat diketahui berapa jumlah investasi yang harus dilakukan untuk mencapai suatu tujuan keuangan (misal: Dana Pendidikan Anak, Dana Pensiun, dll) dan berapa lama investasi harus dilakukan
Pada saat menganalisa suatu reksadana memang dibutuhkan suatu analisa yang menyeluruh bukan hanya dilihat dari sisi return, tapi juga resiko dan faktor lainnya dan inilah yang dilakukan oleh FP yang nantinya akan merekomendasikan beberapa pilihan reksadana berdasarkan fakta dan data yang ada.
Untuk orang awam pilihannya adalah belajar sendiri mengenai financial planning di institusi yang ada (contoh: IARFC) atau memilih Financial Planner yang akan membantu, agar nantinya mengerti jelas reksadana itu apa, jenis-jenisnya, kegunaannya, lebih mampu dalam memilih produk investasi, mengingat banyaknya jenis reksadana yang saat ini ada dan juga lebih mengerti konsep financial planning yang benar itu seperti apa, contoh: bagaimana memahami profil resiko kita dan tingkat resiko produk investasi yang ada,kapan harus membeli dan menjual investasi yang ada itu disesuaikan dengan tujuan keuangannya (jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang), dll
Semoga sudah tidak ragu lagi